Rabu, 01 Juli 2026

Sungguh para malaikat itu saaaaangat malu pada Ustman Ibn afan

Ditengah penjelasan nya membahas kitab Mukhtasar Kitabu Syari'ah Lil Imam Al Ajurrii, beliau Syaikh Hisyam Thohirii tatkala menjelaskan tentang ke khilafahan Ustman Ibn Afwan radhiyallahu 'anhu membacakan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi bersabda "Sungguh para malaikat itu saaaaangat malu pada Ustman Ibn Afwan".
Beliau melanjutkan penjelasannya kenapa Ustman dalam sholat malam nya dan hanya satu rokaat beliau mengkhatamkan Al quran, bukan dalam tiga, lima atau sebelas rakaat. Apa sebabnya, karena beliau sangat malu pada Allah ketika sedang membaca firman-Nya kemudian memutus nya, sehingga dia khatamkan Al quran dalam satu rakaat tanpa berhenti. 

Yaa subhanallah, dimana kita dari akhlak dan ibadahnya para salaf

Semoga Allah senantiasa memberikan kenikmatan pada kita semua dalam beribadah terkhusus membaca dan mentadabburi firman-Nya
ustadz jumantoro at thalibi

Ciri khas umum ahlu bidah (apapun bidahnya) adalah menyembunyikan dalil

Ciri khas umum ahlu bidah (apapun bidahnya) adalah menyembunyikan dalil

Apalagi hadits2 Nabi shallallahu alaihi wasallam yang jelas dan terang benderang akan mereka samarkan

Termasuk bidah "khuruj ala wulatil umur"

Hadits2 yang jelas bilang : taatilah pemerintah, sabarlah, jangan betontak, tunaikan hak mereka

Ga bakal mereka bahas di majlis2 ilmu

Kalaupun tersingkap maka akan mereka pelintir dan selewengkan makna nya

Oleh karena itulah mengapa dinamakan ahlu sunnah karena mereka selalu berpegang teguh dengan dalil

Dan antm akan dapati kelompok yang paling teguh thd dalil adalah mereka salafi

قال شيخ الإسلام رحمه الله :
فَلَا تَجِدُ قَطُّ مُبْتَدِعًا إِلَّا وَهُوَ يُحِبُّ كِتْمَانَ النُّصُوصِ الَّتِي تُخَالِفُهُ وَيُبْغِضُهَا وَيُبْغِضُ إِظْهَارَهَا وَرِوَايَتَهَا وَالتَّحَدُّثَ بِهَا وَيُبْغِضُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ
 (مجموع الفتاوى : ٢٠ / ١٦١)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

Tidaklah engkau dapati seorang ahli bid'ah, melainkan ia senantiasa menyukai untuk menyembunyikan nash-nash yang bertentangan dengan pendapatnya. Ia membenci nash-nash tersebut, membenci jika nash-nash itu ditampakkan, diriwayatkan, dan dibicarakan. Bahkan, ia juga membenci orang yang melakukan hal itu.

Sumber: Majmu' al-Fatawa, jilid 20, hlm. 161.
ustadz lutfi setiawan

Mengingkari bidah dan mencela pelakunya, menjauhkan manusia darinya, dan menjauhkan umat dari kesesatan nya bukanlah ghibah

Mengingkari bidah dan mencela pelakunya, menjauhkan manusia darinya, dan menjauhkan umat dari kesesatan nya bukanlah ghibah

Justru itu adalah bentuk nasehat, dakwah, dan amar maruf nahi mungkar 

Agar umat tidak tertipu dan terjatuh dalam kesesatan 

قال أبو صالح الفراء رحمه الله : 
حَكَيْتُ لِيُوسُفَ بنِ أَسْبَاطٍ عَنْ وَكِيْعٍ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الفِتَنِ، فَقَالَ : ذَاكَ يُشْبِهُ أُسْتَاذَهُ. يَعْنِي : الحَسَنَ بْنَ حَيّ. فَقُلْتُ لِيُوْسُفَ : أَمَا تَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ هَذِهِ غِيبَةٌ؟ فَقَالَ : لِمَ يَا أَحْمَقُ ، أَنَا خَيْرٌ لِهَؤُلاءِ مِنْ آبَائِهِم وَأُمَّهَاتِهِمْ، أَنَا أَنْهَى النَّاسَ أَنْ يَعْمَلُوا بِمَا أَحْدَثُوا ، فَتَتْبَعُهُم أَوْزَارُهُم ، وَمَنْ أَطْرَاهُم كَانَ أَضَرَّ عَلَيْهِم
 (السير للذهبي : ٧ / ٥٤)

Abu Shalih Al-Farrā' rahimahullah berkata:

Aku pernah menceritakan kepada Yusuf bin Asbath tentang sebagian ucapan Waki' mengenai berbagai fitnah. Maka Yusuf berkata:

Itu mirip dengan gurunya, yaitu Al-Hasan bin Hayy.

Lalu aku berkata kepada Yusuf:

Apakah engkau tidak khawatir bahwa ini termasuk ghibah?

Beliau menjawab:

Mengapa? Wahai orang bodoh! Aku justru lebih berbuat baik kepada mereka daripada ayah dan ibu mereka sendiri. Aku memperingatkan manusia agar tidak mengamalkan berbagai perkara baru (bid'ah) yang mereka ada-adakan, sehingga dosa-dosa akibat perbuatan itu tidak terus mengikuti mereka. Adapun orang yang memuji-muji mereka, maka dialah yang lebih membahayakan mereka.

Sumber: Siyar A'lam al-Nubala', jilid 7, hlm. 54.
ustadz lutfi setiawan

lebih hasad dari domba jantan

Jika engkau ingin mengetahui kebaikan (kesalehan) seseorang, maka lihatlah bagaimana ia bermuamalah dengan orang lain dalam urusan dirham dan dinar (harta).

"Jika engkau ingin mengetahui kebaikan (kesalehan) seseorang, maka lihatlah bagaimana ia bermuamalah dengan orang lain dalam urusan dirham dan dinar (harta).
Jika engkau ingin mengetahui kecerdasan seseorang, maka lihatlah bagaimana cara ia berdialog dengan orang yang berbeda pendapat dengannya, dan bagaimana ia bersikap ketika marah.
Jika engkau ingin mengetahui akhlak seseorang, maka lihatlah bagaimana ia memperlakukan para pekerja, pembantu, orang-orang fakir, dan orang-orang miskin."
— Dr. Sa'ad Al-Khathlan (أ.د. سعد الخثلان)
ustadz noor akhmad setiawan

Hukum Isbal Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Hukum Isbal Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah 

Beliau rahimahullah berkata :

فأما أن كان على غير وجه الخيلاء بل كان على علة أو حاجة أو لم يقصد الخيلاء والتزين بطول الثوب ولا غير ذلك فعنه أنه لا بأس به وهو اختيار القاضي وغيره

"Maka adapun seseorang memakai pakaian dengan isbal bukan disertai kesombongan tetapi karena ada sebab atau adanya hajat (kebutuhan), atau tidak bermaksud sombong dan tidak bermaksud menghias dengan cara memanjangkan pakaian, dan tidak pula selain itu, maka itu tidak mengapa. Ini juga pendapat yang dipilih oleh Al-Qadhi dan selainnya."
[Syarhul 'Umdah, Pembahasan Shalat, hal. 361]

Al-Imam Ibnu Muflih Al-Maqdisi Al-Hanbali rahimahullah menuturkan :

وَاخْتَارَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ - رَحِمَهُ اللَّهُ - عَدَمَ تَحْرِيمِهِ وَلَمْ يَتَعَرَّضْ لِكَرَاهَةٍ وَلَا عَدَمِهَا

“Pendapat yang dipilih oleh Syaikh Taqiyyuddin Ahmad Ibnu Taimiyyah adalah memilih untuk tidak mengharamkan isbal selama tidak sombong, dan tidak menyebutnya sebagai perbuatan makruh, namun tidak pula menafikan kemakruhannya."
[Al-Adaabusy-Syar'iyyah wal Manhul-Mar'iyyah, jilid 3, hal. 521]

Al-Imam Ibnu Muflih Al-Maqdisi Al-Hanbali rahimahullah lebih lanjut menjelaskan :

قَالَ صَاحِبُ الْمُحِيطِ مِنْ الْحَنَفِيَّةِ وَرُوِيَ أَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ ارْتَدَى بِرِدَاءٍ ثَمِينٍ قِيمَتُهُ أَرْبَعُمِائَةِ دِينَارٍ وَكَانَ يَجُرُّهُ عَلَى الْأَرْضِ فَقِيلَ لَهُ أَوَلَسْنَا نُهِينَا عَنْ هَذَا ؟ فَقَالَ إنَّمَا ذَلِكَ لِذَوِي الْخُيَلَاءِ وَلَسْنَا مِنْهُمْ ، وَاخْتَارَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ رَحِمَهُ اللَّهُ عَدَمَ تَحْرِيمِهِ وَلَمْ يَتَعَرَّضْ لِكَرَاهَةٍ وَلَا عَدَمِهَا

“Penulis kitab Al-Muhiith dari ulama Hanafiyyah menyatakan; Telah diriwayatkan bahwasanya Abu Hanifah mengenakan mantel yang mahal seharga 400 dinar. Dan beliau memanjangkannya hingga terseret di atas tanah. Lalu ditanyakan kepadanya, “Bukankah kita dilarang untuk itu?” Ia berkata, “Larangan itu hanyalah untuk yang memiliki kesombongan. Dan kami bukan termasuk dari mereka.” Dan Syaikh Taqiyuddin memilih ketiadaan pengharamannya. Beliau tidak berani untuk memakruhkannya maupun tidak memakruhkannya.” 
[Al-Adaabusy-Syar'iyyah wal Manhul-Mar'iyyah, jilid 4, hal. 226]

Setiap orang yang menjadikan seorang syaikh atau ulama sebagai sosok yang diikuti dalam setiap ucapan dan perbuatannya, lalu ia memberikan loyalitas kepada orang yang sependapat dengannya dan memusuhi orang yang menyelisihinya

"Setiap orang yang menjadikan seorang syaikh atau ulama sebagai sosok yang diikuti dalam setiap ucapan dan perbuatannya, lalu ia memberikan loyalitas kepada orang yang sependapat dengannya dan memusuhi orang yang menyelisihinya—selain Rasulullah ﷺ—maka ia adalah seorang ahli bid'ah yang sesat, menyimpang dari Al-Qur'an dan As-Sunnah."

Syaikhuna Abdul Malik Romadhony hafidzahullahu ta'ala 
Kitab Alaikum bil jama'ah. hal. 121
Ustadz adi abdul jabar