Minggu, 02 Juli 2023

Mudzakarah atau diskusi dengan seorang yg mendalam ilmunya dalam satu cabang ilmu 1 jam lebih bermanfaat dari muthalaah dan menghafal beberapa jam

Semoga Allah merahmati Imam Nawawi, seolah beliau tau tabiat kurang baik sebagian thullab ketika berdiskusi di fb, yaitu taraffu' meninggi dengan gaya bicara dan hatinya. Allahul musta'an. 

Beliau mengatakan dalam muqadimah Alminhaj:

ومذاكرة حاذق في الفنّ ساعةً أنفعُ من المطالعة والحفظ ساعات، بل أياما . وليكن في مذاكرته متحرِّيًا الإنصاف، قاصدًا الاستفادة أو الإفادة، غير على مترفع صاحبه بقلبه ولا بكلامه، ولا بغير ذلك من حاله، مخاطبًا له بالعبارة الجميلة اللينة، فبهذا ينمو علمه، وتزكو ،محفوظاته، والله أعلم.
"Mudzakarah atau diskusi dengan seorang yg mendalam ilmunya dalam satu cabang ilmu 1 jam lebih bermanfaat dari muthalaah dan menghafal beberapa jam, bahkan beberapa hari sekalipun.

Namun dalan mudzakarahnya hendaknya dia menjaga sifat insaf pertengahan bermaksud mencari faidah atau memberi faidah, bukan meninggi atas lawan bicara dengan hati atau perkataannya, atau dengan gayanya, namun bicara dengan ibarah yg indah lembut, maka dengan ini ilmunya akan berkembang, dan tersucikan apa yg dia hafal Wallahu a'lam "

Rahimahullah rahmatan wasi’ah..
Ustadz bagus wijanarko

Sabtu, 01 Juli 2023

Apabila engkau memakai suatu pakaian, lalu engkau menganggap bahwa pakaian yang kau pakai itu lebih baik dari pakaian orang selainmu, maka ketahuilah itu adalah seburuk-buruk pakaianmu

Berkata Muslim bin Yasar:
“Apabila engkau memakai suatu pakaian, lalu engkau menganggap bahwa pakaian yang kau pakai itu lebih baik dari pakaian orang selainmu, maka ketahuilah itu adalah seburuk-buruk pakaianmu” (Az Zuhud Imam Ahmad 354)

Pelajaran yang dapat dipetik:
Harga dirimu ada pada agamamu & akhlakmu.
Kapan kau menganggap bahwa baju, jabatan, dan kedudukan adalah harga dirimu, maka ketahuilah bahwa kau tak punya harga diri!
Sejatinya itu semua hanya harga suatu barang & tempat yang cepat atau lambat akan lekang dari dirimu!

Diterjemahkan dari Tweet Syaikh Badr bin Ali Al Utaibi

✍🏻Yami Amanda Cahyanto
Ustadz ya mi cahyanto

Catatan Singkat Dauroh Syariyyah Bersama Syaikh Utsman Al-khomiis

Catatan Singkat Dauroh Syariyyah Bersama 
Syaikh Utsman Al-khomiis

# Ayat yang paling agung didalam al-qur'an adalah ayat kursi, karena didalamnya berbicara tentang Allah.
Surat yang paling agung dalam al-qur'an adalah surat al-fatihah, karena didalamnya berbicara tentang Allah.

# Perkataan yang paling baik adalah perkatan dakwah

# Ghorghorah (meregang nyawa) adalah perkara ghoib karena ia adalah ruh, Fir'aun mengatakan keimanan namun terlambat dan mati diatas kekufuran, namun ada seorang pemuda yahudi yang masuk islam ditangan nabi menjelang waftanya dan wafat diatas keislaman.

# Oleh sebab kita tidak bisa memastikan waktu ghorghorah (meregang nyawa) maka kita perlakukan orang meninggal dengan yang tampak pada kita

# Dari 9 (sembilan) sahabat yang dijamin masuk surga, 6 (enam) diantaranya masuk islam ditangan Abu Bakar, mereka adalah Thalhah bin ubaidillah, Zubair bin Awwam,  Abu Ubaidah bin Aljarrah,  Sa'ad bin abi Waqqash, Said bin Zaid dan Utsman bin Affan (dalam sebagian pendapat). Maka pantaslah beliau menjadi sahabat nabi yang paling mulia.

# Seorang da'i tetap mendapatkan fahala disebabkan orang yang mengikuti nasihatnya sekalipun dia belum melkukan apa yang dia sampaikan, kecuali dosa murtad maka semua amalanya akan terhapus.

# Apa yang dilakukan sahabat nabi berupa membaca surat al-ikhlas pada setiap roka'at sholat disebabkan cintanya terhadap surat ini, tidak bisa diqiyaskan dengan surat lain dg alasan cinta terhadap surat tersebut. karena apa yang terjada pada sahabta telah mendapatkan iqror (ketegasan) dari nabi sementara kasus yang kedua tidak.

# Terdpat hadits nabi berbunyi "Barangsiapa meninggalkan sholat asar maka amalannya terhapus" yang dimaksud terhapus adalah amalan pada hari ia meninggalkan shalat ashar.
==========

Rabu, 11 Dzulqo'dh 1444 H / 31 Mei 2023
Dauroh Syar'iyyah
Batu, Malang
Alfaqiir ilallah, Jeje Rijalul Hak.

Kecerdasan dan prestasimu tidak menentukan manfaat dan berkahnya ilmumu! Walau engkau bergelar tinggi sekalipun jikalau hatimu rusak dan kotor, ilmumu tak akan berkah kendatipun ia banyak.

Kecerdasan dan prestasimu tidak menentukan manfaat dan berkahnya ilmumu! Walau engkau bergelar tinggi sekalipun jikalau hatimu rusak dan kotor, ilmumu tak akan berkah kendatipun ia banyak.

Syaikh Shalih al Ushaimi berkata: 
“Maka dia yang membersihkan hatinya dengan sempurna dialah yang mendapatkan manfaat yang besar dari ilmu walau selainnya lebih kuat hafalannya dan lebih cepat memahami ilmu”
📚 Syarah Ta’zhim al Ilmi, kiat kedua.

Bersihnya hati meliputi : 
• Ikhlashnya niat.
• Bersih dari Syubhat & Syahwat (Hal ini mencakup bersihnya hati dari Syirik, bid’ah dan maksiat). 

Memperhatikan hati merupakan perkara yang penting bagi penuntut ilmu. Terkadang, sibuk menuntut ilmu tanpa memperhatikan kebersihan hati membuat seorang lupa untuk apa ia menuntut ilmu itu. Ada kedudukan yang ingin dicapai dan ada ketenaran yang ingin diraih. Bukan dengan dunia, tapi dengan ilmu. Dengan itu, rusaklah dunia dan akhiratnya. Bahkan kerusakan yang ditimbulkan lebih parah dari kerusakan yang diakibatkan oleh dua serigala lapar yang dilepas pada kerumunan kambing. Allahul Musta’aan.
Ustadz ya mi cahyanto

Al-Imam Al-Faqih Abu Ibrahim Isma'il ibn Yahya Al-Muzani Asy-Syafi'i atau Imam Al-Muzani rahimahullah bercerita :

- Al-Imam Al-Faqih Abu Ibrahim Isma'il ibn Yahya Al-Muzani Asy-Syafi'i atau Imam Al-Muzani rahimahullah bercerita :

“Aku menemui Imam Asy-Syafi’i, menjelang beliau wafat, lalu kubertanya : “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, Wahai Guruku ?”

Beliau menjawab : “Pagi ini, aku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu : apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”

Aku berkata : “Nasihatilah aku.”

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berpesan kepadaku : “Bertakwalah kepada Allah subhanahu wa ta'ala, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu, dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Takutlah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah segalah hal yang Dia haramkan, laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau bersama Allah, di manapun engkau berada. Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu (walaupun nikmat itu sedikit) dan balaslah dengan selalu bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang mendhalimimu, sambunglah (silaturrahmi dari) orang yang memutus silaturahmi terhadapmu, berbuat baiklah kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah subhanahu wa ta'ala dari api neraka dengan ketakwaan.”

Aku berkata : “Tambahlah (nasihatmu) kepadaku.”

Beliau melanjutkan : “Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai toharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, shadaqah sebagai pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu, dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur`an sebagai juru bicaramu dengan kejelasan, serta jadikanlah Allah subhanahu wa ta'ala sebagai Penyejukmu. Barangsiapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.”

Kemudian, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir :

"Kepada-Mu -wahai Ilah segenap makhluk, wahai Pemilik anugerah dan kebaikan-kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa. Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku. Kurasa dosaku teramatlah besar, tetapi tatkala dosa-dosa itu kubandingkan dengan maaf-Mu-wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar. Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan. Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu, Adam. Kalaulah Engkau memaafkan aku, Engkau telah memaafkan

Seorang yang congkak, dhalim lagi sewenang-wenang yang masih terus berbuat dosa. Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa. walaupun diriku telah engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku. Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang, namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar.
Ustadz bilal abu azfa

HUKUM MEROKOK DALAM MASJID/MUSHOLLA/MAJLIS ILMU

HUKUM MEROKOK DALAM MASJID/MUSHOLLA/MAJLIS ILMU

Dalam kitab الموسوعة الفقهية الكويتية dijelaskan hukum merokok di dalam masjid, musholla, majlis ilmu dan halaqah Al-Qur'an yaitu hukumnya HARAM menurut kesepakatan seluruh ulama, berikut redaksinya:

لاَ يَجُوزُ شُرْبُ الدُّخَّانِ فِي الْمَسَاجِدِ بِاتِّفَاقٍ، سَوَاءٌ قِيل بِإِبَاحَتِهِ أَوْ كَرَاهَتِهِ أَوْ تَحْرِيمِهِ، قِيَاسًا عَلَى مَنْعِ أَكْل الثُّومِ وَالْبَصَل فِي الْمَسَاجِدِ، وَمَنْعِ آكِلِهِمَا مِنْ دُخُول الْمَسَاجِدِ حَتَّى تَزُول رَائِحَةُ فَمِهِ، وَذَلِكَ لِكَرَاهَةِ رَائِحَةِ الثُّومِ وَالْبَصَل، فَيَتَأَذَّى الْمَلاَئِكَةُ وَالْمُصَلُّونَ مِنْهَا، وَيُلْحَقُ الدُّخَّانُ بِهِمَا لِكَرَاهَةِ رَائِحَتِهِ - وَالْمَسَاجِدُ إِنَّمَا بُنِيَتْ لِعِبَادَةِ اللَّهِ، فَيَجِبُ تَجْنِيبُهَا الْمُسْتَقْذَرَاتِ وَالرَّوَائِحَ الْكَرِيهَةَ - فَعَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: مَنْ أَكَل الْبَصَل وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ.

"Tidak boleh merokok di dalam masjid menurut kesepakatan ulama' baik yang menyatakan hukum rokok boleh, makruh atau haram. Hal ini dikarenakan diqiyaskan pada larangan memakan bawang putih dan merah di masjid dan melarang orang yang memakan keduanya untuk masuk masjid sampai bauh keduanya hilang dari mulutnya. Di mana malaikat dan orang yang shalat tidak akan suka dengan baunya. Sedangkan masjid dibangun untuk ibadah sehingga wajib menjauhkan masjid dari hal-hal menjijikkan dan bau yang tidak enak". Dari Jabir radiyallahu anhu bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 
مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ
“Barangsiapa makan bawang merah, bawang putih, serta bawang bakung, janganlah dia mendekati masjid kami, karena malaikat merasa tersakiti dari bau yang juga membuat manusia merasa tersakiti (disebabkan baunya).” (HR. Muslim no. 564)
Ustadz hawasyi al bantany

website resmi Syaikh abdurozaq bin abdul muhsin al badr Hafidzahullah

https://al-badr.net/
https://al-badr.net/streaming