Kamis, 19 Februari 2026

Di saat Perang Khandaq, Abu Thalhah al-Anshari pulang ke rumah dan berujar kepada istrinya, Ummu Sulaim:

Di saat Perang Khandaq, Abu Thalhah al-Anshari pulang ke rumah dan berujar kepada istrinya, Ummu Sulaim:

إني سمعتُ صوتَ رسولِ اللّٰهِ ضعيفاً، أعرفُ فيه الجوع، فهل عندكِ شيء؟

“𝘼𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧 𝙨𝙪𝙖𝙧𝙖 𝙍𝙖𝙨𝙪𝙡𝙪𝙡𝙡𝙖𝙝 ﷺ 𝙢𝙚𝙡𝙚𝙢𝙖𝙝; 𝙖𝙠𝙪 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣𝙖𝙡𝙞 𝙜𝙚𝙩ir 𝙡𝙖𝙥𝙖𝙧 𝙙𝙞 𝙨𝙪𝙖𝙧𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙩𝙪. 𝘼𝙙𝙖𝙠𝙖𝙝 𝙚𝙣𝙜𝙠𝙖𝙪 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪 (𝙢𝙖𝙠𝙖𝙣𝙖𝙣)?”

من يُحبُّكَ حقاً سيسمعُ صوتكَ بقلبه لا بأذنيه،
وحده من سيعرفُ أنكَ لستَ بخيرٍ،
سيرى الحزن في عينيكَ وإن خفيّ على النَّاس،
سيلاحظ تغيُّركَ وإن بدا للجميع أن كل شيء عادي،
سيرى توترك الذي تخفيه باتزانك،
وخوفك الذي تُغلفه بطمأنينتك،
من يُحبُّكَ يشعرُ بك

Orang yang benar-benar mencintaimu
akan mendengar suaramu dengan hati, bukan dengan telinga.

Hanya dialah yang tahu bahwa engkau sedang tidak baik-baik saja, meski dunia melihatmu tampak begitu kuat dan biasa saja.

Ia melihat kesedihan di matamu
meski engkau menyembunyikannya dari manusia.

Ia menyadari perubahanmu
saat orang lain mengira segalanya tetap normal.

Ia menangkap kegelisahan yang kau sembunyikan di balik ketegaran, dan jua ketakutan yang kau balut dengan ketenteraman.

Sebab orang yang mencintaimu,
bukan sekadar melihatmu. Namun, dengan jiwanya ia merasakan getir yang engkau rasa.
_____
Cinta sejati bukan hanya pada kata dan penampilan, tetapi pada kepekaan hati. Seperti Abu Thalhah yang peka terhadap kondisi Rasulullah ﷺ, demikian pula orang-orang yang hatinya hidup akan peka terhadap saudara, keluarga, dan orang yang dicintainya. Kepekaan hati adalah tanda hidupnya iman.

•Sumber: Buku Ila al-Munkasarati Qulubuhum.
•Alih bahasa: Yani Fahriansyah