Jumat, 03 April 2026

Bid'ah Menguji Manusia Berdasarkan Tokoh

 **Syekh Abdul Muhsin al-Abbad** yang membahas tentang fenomena menguji orang lain berdasarkan tokoh tertentu. 
### **Judul Utama: Dorongan untuk Mengikuti Sunnah, Peringatan Terhadap Bid'ah, dan Penjelasan Bahayanya**
**Sub-judul: Bid'ah Menguji Manusia Berdasarkan Tokoh (Imtihanun Nas bil Asykhash)**
"Termasuk bid'ah mungkar yang terjadi di zaman ini adalah perbuatan sebagian Ahlus Sunnah yang menguji sebagian lainnya dengan tokoh-tokoh tertentu. Baik motif pengujian tersebut adalah kebencian terhadap orang yang dijadikan bahan ujian, atau motifnya adalah pujian yang berlebihan kepada orang lainnya.
Jika hasil pengujian tersebut sesuai dengan keinginan si penguji, maka orang yang diuji akan mendapatkan sambutan, pujian, dan sanjungan. Namun jika tidak, maka bagiannya adalah celaan (tahjir), dianggap ahli bid'ah (tabdi'), boikot (hajr), dan peringatan (tahdzir).
Berikut ini adalah nukilan dari **Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah**—semoga Allah merahmatinya—di awal dan akhir tulisannya mengenai larangan menguji orang dengan tokoh-tokoh tertentu karena kebencian kepada mereka, atau menguji dengan tokoh lain karena pujian berlebih kepada mereka. Beliau berkata dalam *Majmu' al-Fatawa* (3/413-414) saat membahas tentang Yazid bin Muawiyah:
> 'Dan yang benar adalah apa yang dipegang oleh para Imam: Bahwasanya dia (Yazid) tidak dikhususkan untuk dicintai dan tidak pula dilaknat. Namun meskipun demikian, jika dia adalah seorang fasik atau zalim, maka Allah mengampuni orang fasik dan zalim, terlebih jika dia memiliki kebaikan-kebaikan yang besar. Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Pasukan pertama yang memerangi Konstantinopel diampuni dosanya." Dan pasukan pertama yang memeranginya dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah, dan bersamanya ada Abu Ayub al-Anshari...'
Maka kewajibannya adalah bersikap pertengahan dalam hal tersebut, dan berpaling dari menyebut-nyebut Yazid bin Muawiyah serta menjadikannya bahan untuk menguji kaum muslimin; karena sesungguhnya ini termasuk **bid'ah yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama'ah**.'
Beliau juga berkata (3/415):
> 'Demikian pula memecah belah umat dan menguji mereka dengan hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ.'
Dan beliau berkata (20/164):
> 'Tidak boleh bagi siapapun untuk mengangkat seseorang bagi umat, lalu mengajak orang lain mengikuti jalannya, serta membangun wala' (loyalitas) dan bara' (permusuhan) di atasnya kecuali kepada Nabi ﷺ. Tidak boleh pula mengangkat perkataan bagi mereka selain firman Allah dan sabda Rasul-Nya serta apa yang telah disepakati umat, lalu membangun loyalitas dan permusuhan di atasnya. Bahkan ini adalah perbuatan ahli bid'ah yang mengangkat seorang tokoh atau suatu perkataan lalu memecah belah umat dengannya, membangun loyalitas atau permusuhan berdasarkan tokoh atau ucapan tersebut.'"
 Sampul buku "Al-Hats 'ala Ittiba'is Sunnah wa al-Tahdzir minal Bida'".
 Foto Syekh Abdul Muhsin al-Abbad.

Dorongan untuk Mengikuti Sunnah, Peringatan terhadap Bid'ah, dan Penjelasan Bahayanya
Bid'ah Menguji Manusia Berdasarkan Tokoh (Imtihanun Nas bil Asykhas)
Beliau berkata (15/28-16):
"Jika seorang guru atau ustadz memerintahkan untuk memboikot seseorang, menjatuhkannya, menjauhkannya, atau hal semacamnya, maka hal itu harus ditinjau kembali:
Jika orang tersebut melakukan dosa secara syariat, maka ia dihukum sesuai kadar dosanya tanpa berlebihan.
Jika ia tidak melakukan dosa secara syariat, maka tidak boleh menghukumnya dengan cara apa pun demi tujuan pribadi sang guru atau selainnya.
Para guru tidak sepatutnya membuat kelompok-kelompok di antara manusia dan melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan permusuhan serta kebencian. Sebaliknya, mereka harus menjadi seperti saudara yang saling tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
'Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.'"
Sekiranya dibolehkan untuk menguji manusia dengan tokoh tertentu di zaman ini untuk mengetahui siapa yang termasuk pengikut Sunnah (Ahlus Sunnah) atau bukan, maka orang yang paling berhak dan utama untuk dijadikan tolok ukur ujian tersebut adalah Syaikhul Islam, Mufti Dunia, dan Imam Ahlus Sunnah di zamannya, yaitu guru kami Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (yang wafat pada 27 Muharram 1420 H). Semoga Allah merahmatinya, mengampuninya, dan memberinya pahala yang melimpah. Beliau dikenal oleh kalangan khusus maupun umum karena keluasan ilmunya, besarnya manfaatnya, kejujurannya, kelembutannya, kasih sayangnya, serta semangatnya dalam memberi petunjuk kepada manusia. Kami menilainya demikian, dan kami tidak menyucikan seorang pun di hadapan Allah.
Beliau memiliki manhaj (metode) yang unik dalam berdakwah kepada Allah, mengajarkan kebaikan kepada manusia, memerintah yang makruf, dan mencegah yang mungkar dengan kelembutan. Manhaj yang lurus ini membangun kekuatan Ahlus Sunnah, bukan memecah belahnya; menyatukan mereka, bukan mencerai-beraikannya; mempermudah, bukan mempersulit. Betapa butuhnya para penuntut ilmu saat ini untuk mengikuti jalan yang lurus dan manhaj yang agung ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan bagi kaum muslimin dan penolak marabahaya dari mereka.
Dan wajib bagi para pengikut maupun tokoh yang diikuti yang telah terjerumus ke dalam ujian (terhadap tokoh) tersebut untuk melepaskan diri dari jalan ini, yang telah memecah belah Ahlus Sunnah dan membuat mereka saling memusuhi. Caranya adalah dengan meninggalkan ujian tersebut dan segala dampak kebencian serta boikot yang ditimbulkannya. Hendaklah mereka menjadi saudara yang saling mencintai dan tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa. Para tokoh yang diikuti harus berlepas diri dari metode ini dan dari perbuatan orang-orang yang melakukannya. Dengan demikian, para pengikut dan tokoh tersebut akan selamat dari beban dosa akibat ujian ini dan dari dampak buruk yang menimpa mereka maupun orang lain.

IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR: Ulama Ahlul Bait yang Mencintai Sahabat

IMAM MUHAMMAD AL-BAQIR: Ulama Ahlul Bait yang Mencintai Sahabat

Muhammad Al-Baqir rahimahullah adalah salah satu imam besar dari kalangan Ahlul Bait. Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, lahir pada tahun 56 H dan wafat pada tahun 114 H. Beliau hidup di tengah limpahan kemuliaan nasab, ilmu, dan ibadah. Namun sebagaimana para imam Ahlul Bait lainnya, jejak hidup beliau justru membantah propaganda Syi’ah yang berusaha mempertentangkan keluarga Nabi ﷺ dengan para sahabat.

Salah satu bukti terangnya tampak dari pernikahan beliau dengan Ummu Farwah, putri Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash-Shiddiq. Dengan pernikahan ini, Imam Muhammad Al-Baqir terhubung langsung dengan keturunan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ini bukan sekadar jalur nasab, tetapi juga bukti bahwa hubungan Ahlul Bait dengan keluarga Abu Bakar bukanlah hubungan permusuhan, melainkan hubungan kedekatan, cinta, dan pertalian keluarga. Mustahil seorang imam Ahlul Bait menikah dengan keturunan Abu Bakar jika memang Abu Bakar diyakini sebagai musuh besar keluarga Nabi.

Beliau juga tumbuh dalam lingkungan ilmu yang agung. Dari kalangan sahabat, disebutkan bahwa beliau mengambil ilmu dari enam sahabat Nabi ﷺ, yaitu Jabir bin Abdullah Al-Anshari, Abdullah bin Abbas Al-Hasyimi, Abdullah bin Umar bin Khaththab, Ummu Salamah Ummul Mukminin, Abu Sa’id Al-Khudri Al-Anshari, dan Anas bin Malik Al-Anshari radhiyallahu ‘anhum. Ini menunjukkan bahwa Imam Muhammad Al-Baqir tidak hidup dalam tradisi memusuhi sahabat, tetapi justru belajar dari mereka, menerima warisan ilmu dari mereka, dan berdiri di atas mata rantai keilmuan Islam yang bersambung dengan generasi terbaik umat.

Kecintaan beliau kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq juga tampak dari ucapan beliau yang masyhur. Ketika ditanya tentang Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau menjawab dengan penuh penghormatan: “نعم الصديق، نعم الصديق”, “Benar, beliau adalah Ash-Shiddiq, benar, beliau adalah Ash-Shiddiq.” Lalu beliau menegaskan bahwa siapa yang tidak menyebut Abu Bakar dengan gelar Ash-Shiddiq, maka Allah tidak akan membenarkan ucapannya di dunia dan di akhirat. Ini adalah pembelaan yang sangat jelas dari seorang imam Ahlul Bait kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Maka sungguh aneh jika kaum Syi’ah tetap menisbatkan kebencian kepada Abu Bakar atas nama Ahlul Bait, padahal salah seorang imam besar mereka justru membela beliau dengan lisan yang tegas.

Adapun julukan Al-Baqir disematkan kepada beliau karena kedalaman ilmunya. Para ulama menjelaskan bahwa beliau disebut Al-Baqir karena membelah ilmu, yakni menyingkap, menguraikan, dan memperinci ilmu dengan sangat dalam. Beliau bukan sekadar ahli ibadah dari kalangan Ahlul Bait, tetapi juga seorang alim besar yang dikenal karena keluasan ilmu, pemahaman yang mendalam, dan kemampuan menjelaskan hakikat-hakikat agama dengan terang. Julukan ini menjadi pengakuan atas kedudukan ilmiah beliau yang tinggi di tengah umat.

Ketinggian ilmu itu juga tampak dari banyaknya riwayat hadits beliau. Disebutkan bahwa terdapat sekitar 240 riwayat hadits dari Imam Muhammad Al-Baqir dalam Kutub Tis’ah. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang diakui dalam transmisi ilmu Islam, bukan tokoh pinggiran. Beliau hadir dalam warisan hadits Islam, meriwayatkan dan diajak meriwayatkan, serta menjadi bagian dari bangunan ilmu Ahlus Sunnah yang kokoh.

Karena itu, sosok Imam Muhammad Al-Baqir sangat penting untuk dipahami dengan jujur. Beliau adalah imam dari Ahlul Bait, tetapi bukan imam bagi propaganda kebencian kepada sahabat. Beliau menikah dengan keturunan Abu Bakar, belajar dari para sahabat, memuliakan Abu Bakar dengan gelar Ash-Shiddiq, dan dikenal karena kedalaman ilmunya. Semua ini menunjukkan bahwa jalan Ahlul Bait yang sejati bukanlah jalan Rafidhah, tetapi jalan ilmu, cinta kepada para sahabat, dan kesetiaan kepada warisan Islam yang murni.

Wallahu a'lam.
Ustadz abul abbas aminullah 

Takut Dan Harap Kepada Allah

Takut Dan Harap Kepada Allah

Fudhail bin Iyadh berkata, "Rasa takut kepada Allah lebih utama daripada pengharapan selama seseorang itu masih dalam keadaan sehat, adapun ketika mendekati kematian maka pengharapan lebih utama."

("At-Takhwif Minan Nar", Ibnu Rajab, hal. 8)
ustadz al mizzi

Menimbang Akal dalam Timbangan Sahabat

Menimbang Akal dalam Timbangan Sahabat

​Pernahkah terbersit di benak kita, sejauh mana logika boleh mencampuri urusan agama?

​Para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum punya sikap yang sangat tegas soal ini. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu misalnya. Beliau pernah berujar dengan penuh ketakutan bahwa ia tak rela bumi memikulnya jika ia sampai nekat menafsirkan ayat Allah hanya bermodalkan logika pribadi.

​Setali tiga uang, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu juga dikenal sangat keras terhadap mereka yang menjadikan rasio sebagai jalan pintas. Beliau bahkan memberi label cukup telak bagi golongan ini: "musuh-musuh Sunnah".

​Lantas, apakah ini artinya Islam anti-logika? Tentu tidak.

​Penulis Al-Madkhal al-Mufashshal ilal Fiqhil Hanafi menjelaskan bahwa yang dikritik para sahabat bukanlah akal itu sendiri, melainkan "logika liar". Yaitu akal yang berjalan tanpa sandaran nash (dalil), atau digunakan oleh mereka yang malas menimba ilmu tapi ingin cepat-cepat berfatwa.

​Membedah Dua Sisi Akal: Antara Racun dan Obat

​Penggunaan akal (ar-ra’yu) bisa dipetakan ke dalam dua koridor besar:

​1. Logika yang "Kebablasan" (Madzmum) 

​Bukannya jadi alat bantu, logika jenis ini malah jadi benalu dalam beragama. Cirinya:

● ​Asal Bunyi : Nekat bicara hukum agama tanpa modal pondasi ilmu yang mumpuni.
● ​Jalan Pintas Si Pemalas : Menjadikan rasio sebagai "pelarian" karena enggan menggali kedalaman Al-Qur'an dan Hadis.
● ​Menabrak Pakem : Memaksakan logika pada ranah ibadah yang sudah paten (tawqifi), padahal akal manusia punya batas privasi di sana.
● ​Tunggangan Nafsu : Bukannya dibimbing ilmu, akal justru disetir oleh keinginan pribadi agar agama tampak "cocok" dengan seleranya.

​2. Logika yang "Sehat" (Mamduh) 

​Inilah fungsi akal yang dirawat oleh para ulama; akal yang tajam namun tetap tahu tempatnya bersimpuh:

● ​Pengungkap Hikmah : Berperan penting dalam membedah maksud dan tujuan di balik setiap syariat.
● ​Tertib dan Sistematis : Bekerja dalam koridor bahasa Arab yang benar dan kaidah hukum yang baku.
● ​Analogi yang Bertuan : Menggunakan analogi (qiyas) yang akurat karena punya cantolan dalil yang jelas, bukan sekadar "cocoklogi".

​Pelajaran Penting dari Mengusap Sepatu (Khuff)

​Ada satu analogi cerdas dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang merangkum masalah ini dengan sangat apik:

​"Seandainya agama itu hanya mengikuti logika, tentu bagian bawah sepatu lebih pantas diusap (saat berwudu). Tapi aku melihat Rasulullah ﷺ justru mengusap bagian atasnya."

​Pesannya sederhana tapi dalam: Akal itu punya batas.

​Ada wilayah dalam agama yang sifatnya ta’abbudi (ritual murni) yang harus kita terima apa adanya. Di sini, akal bukan pemimpin, melainkan pengikut. Namun di luar wilayah itu, akal justru sangat berperan, selama ia tunduk pada wahyu dan tidak mencoba "menghakimi" ketetapan Allah.

Kesimpulannya,
​Sebenarnya, tidak ada pertentangan antara "kerasnya" pernyataan para sahabat dengan luasnya cakrawala ijtihad mereka. Masalahnya bukan pada akalnya, tapi pada bagaimana kita menempatkannya.

​Akal itu seperti lampu: ia menerangi jalan agar kita bisa melihat dengan jelas. Namun, jika lampu itu dipaksakan menjadi "penentu arah" sambil mengabaikan peta, ia justru bisa membuat kita buta terhadap rambu-rambu yang sudah dipasang tegas oleh syariat.

Allahu a'lam

Disarikan dari
​📚 Al-Madkhal al-Mufashshal ilal Fiqhil Hanafi

✍️ Reza Ibn Nashrullah

Kamis, 02 April 2026

33 DURUS/PELAJARAN DI SATU WAKTU-Markiz Darul Hadits Fuyush, Yaman-

33 DURUS/PELAJARAN DI SATU WAKTU
-Markiz Darul Hadits Fuyush, Yaman-

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات 

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Insya Allah mulai sabtu besok, 4 April 2026/15 Syawal 1447H, Markiz Darul Hadits Fuyush akan kembali memulai aktifitas belajar dan mengajar seperti biasa setelah libur Ramadhan. Malam kamis kemarin di umumkan Insya Allah sabtu ini akan dibuka 33 durus/pelajaran baik kitab² baru ataupun lanjutan dari pelajaran sebelumnya. Begitu juga halaqoh² quran dan kegiatan lainnya.

Atas nikmat Allah azza wa jalla, Markiz Fuyush adalah Markiz Salafiyyah terbesar di Yaman Selatan. Belasan ribu thullab belajar di markiz ini dari pagi sampai malam, datang dari berbagai penjuru dunia. Dibimbing oleh para masyaikh dan mustafidun yang kompeten dalam ulum syar'iyyah. Bahkan diantara para masyaikh mereka adalah murid² senior Syaikh Al-Allamah Muqbil Al-Wadi'i rahimahullah. 

Para Masyaikh حفظهم الله yang aktif mengajar di markiz diantara nya; Syaikh Basyar Al-Adeni, Syaikh Nabil Masyrof, Syaikh Ahmad Al-Barkani, Syaikh Ahmad Al-Makhrami, ​Syaikh Khalid Marjah, Syaikh Anis Al-Yafi'i, ​Syaikh Yaslam Asy-Syabwi, Syaikh Abdullah Salim Ar-Radfani, ​Syaikh Ridwan Az-Za'uri, ​Syaikh Ahmad At-Thabaqi, ​Syaikh Khalid Al-Hibshi, ​Syaikh Muhammad Al-Haswi, ​Syaikh Ahmad Al-Wahthi, ​Syaikh Shalih Al-Kailah, ​Syaikh Abdul Hakim An-Nakhibi, Syaikh Munir An-Nakhibi, ​Syaikh Hussain Al-Baraki, ​Syaikh Muhammad Shalah, ​Syaikh Shadiq As-Saqqaf, Syaikh Wadi' Muhaim,  dan para masyaikh dan mustafidun yang lainnya. Semoga Allah ta'ala membalas kebaikan² dan jasa² mereka.

Dalam setahun ini (Syawal 1446 - Syawal 1447) sudah dibuka dan berjalan lebih dari 100 durus dan kitab² dari setiap bidang Ilmu syar'i yang ada. Banyak yang sudah selesai dan tamat dan ada juga yang masih berlanjut sampai sekarang. 

Pelajaran² ini akan diumumkan setiap rabu malam. Dan tiap pekan alhamdulillah pasti ada saja durus baru yang dibuka oleh para masyaikh atau mustafid lainnya. Setiap pekan itu bisa ada belasan pelajaran yang dibuka. Kalau awal musim seperti ba'da ramadhan atau nanti awal muharram itu bisa puluhan durus yang dibuka walillahil hamd. 

Paling minimal pelajaran yang diambil oleh tholib itu 2 durus khos diawal belajar dan itu secara bertahap akan bertambah sesuai dengan kemampuan tholib tersebut. Belum lagi ditambah 3 durus 'aam yang berjalan di 3 waktu bada sholat (dzuhur - ashar - maghrib). Yang artinya minimal tholib yang baru itu dia bisa belajar 5 durus setiap hari nya alhamdulillah. 

Semoga kebaikan² ini bisa terus berlanjut kedepannya dan semoga Allah Azza wa Jalla membalas setiap kebaikan para masyaikh, asatidzah, mustafidun dan mereka² yang telah berjuang dalam dakwah di jalan Allah yang mulia ini apapun bidang dan profesi nya. 

Dan juga semoga Allah Azza wa Jalla membalas kebaikan pendiri markiz ini As-Syaikh Al-Allamah Abdurrahman bin Mar'i Al-Adeni رحمه الله dan saudara serta khalifah beliau As-Syaikh Al-Allamah Abdullah bin Mar'i Al-Adeni حفظه الله atas khidmat² mereka dalam dakwah dijalan Allah azza wa jalla. Aamiin ya Rabbal 'alamin 

Berikut daftar² durus dan kutub dalam setahun ini:

I. BIDANG AQIDAH DAN TAUHID:
 1. Al-Ushul Ats-Tsalatsah (Berbagai Syarah: Al-Barrak, Al-Utsaimin, Al-Fauzan)
 2. Al-Qawaid Al-Arba'
 3. Nawaqidul Islam
 4. Kasyfu Syubuhat
 5. Kitab At-Tauhid (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)
 6. Al-Aqidah Al-Wasithiyyah (Syarah Al-Utsaimin, Al-Fauzan, & Al-Harras)
 7. Al-Aqidah At-Thahawiyyah
 8. Al-Aqidah Al-Safariniah
 9. Al-Fatwa Al-Hamawiyah
10. At-Tadmuriyah (Serta kitab Taqrib At-Tadmuriyah)
11. Al-Ibanah 'an Ushulid Diyanah (Al-Asy’ari)
12. Lum’atul I’tiqad (Serta Syarah Al-Fauzan & Al-Utsaimin)
13. Al-Durrah Al-Mudhiyyah
14. Al-Mudzakkirah Al-Mufidah fit Tauhid wal Aqidah
15. Aqidah As-Salaf Ashabul Hadits (Ash-Shabuni)
16. Ha’iyah Ibnu Abi Daud
17. Lamiyah Syaikhul Islam
18. Al-Ushul As-Sittah
19. Ad-Durus Al-Muhimmah li 'Ammatil Ummah
20. Fadhlul Islam
21. Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Al-Utsaimin)
22. Al-Qawaid Al-Mutsla (Al-Utsaimin)
23. Kasyful Kurub fi Ma'rifati 'Allamil Ghuyub
24. Syarah As-Sunnah (Al-Muzani)
25. Ushulus Sunnah (Al-Humaidi & Imam Ahmad)
26. Naqdu Ad-Darimi 'ala Al-Marisi
27. Tathhirul I’tiqad (Ash-Shan’ani)
28. Al-I'tiqad Al-Akmaliyyah (Ibnu Taimiyah)
29. Radd 'ala Al-Jahmiyyah
Dan kutub² lainnya.

II. BIDANG FIQIH:
30. Bidayatul Mujtahid (Kitab Al-Hajj, Al-Buyu', & Nikah)
31. Al-Fiqh Al-Muyassar (Thaharah, Shalah, Zakat, Shiyam, Haji, Muamalat, Nikah, Thalaq)
32. Ad-Durar Al-Bahiyyah (Thaharah, Shalah, Janaiz, & Muamalah)
33. Bulughul Maram (Ibnu Hajar)
34. Manhajus Salikin (As-Sa'di)
35. Shifatu Shalatin Nabi ﷺ (Talkhis Al-Albani)
36. Syarah Al-Nuraniah (Al-Mahdzari)
37. Al-Tahqiq wal Idhah (Ibnu Baz - Masalah Haji & Umrah)
38. Risalah Mukhtasharoh fil Hajj wal Umrah (As-Sa'di)
39. Al-Ghurar As-Sawaifir (Az-Zarkasyi)
40. Ad-Durrah Ats-Tsaminah (Ibnu Hamdan)
41. Al-Mukhtashar Al-Mumti’ fi Nusuk Al-Mutamatti’
42. Talkhis Ahkam Al-Adhahi (Al-Utsaimin)
43. Masail Ahkam At-Thaharah & Shifatu Wudhu
44. Syurutu Shalah wa Arkanuha wa Wajibatuha
45. Taysirul ‘Allam Syarah ‘Umdatul Ahkam
46. Sujud As-Sahwi (Al-Utsaimin)
47. Dan kutub fiqih lainnya.

III. BIDANG USHUL FIQH DAN QAWAID FIQHIYYAH:
48. Al-Ushul min 'Ilmil Ushul (Al-Utsaimin)
49. Matan Al-Waraqat (Serta Syarah Al-Fauzan)
50. Al-Nubadz fi Ushulil Fiqh (Ibnu Hazm)
51. Qawaidul Ushul wa Ma’aqidul Fushul
52. Mukhtashar At-Tahrir
53. Al-Qawaid wal Ushul Al-Jami'ah (As-Sa'di)
54. Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah (As-Sa'di - Matan & Manzhumah)
55. Ar-Risalah (Imam Asy-Syafi'i)
56. Al-Qawaid Al-Kulliyah Al-Kubra
57. Tuhfatu Ahli Thalab fi Tajrid Qawaid Ibnu Rajab
Dan kutub² lainnya.

IV. BIDANG HADITS & MUSTHALAH HADITS:
58. Al-Arba’un An-Nawawiyyah (Syarah Al-Badr)
59. Nukhbatul Fikar (Serta Syarah Nuzhatun Nadzar)
60. Al-Ba’its Al-Hatsits fii Ikhtishar 'Ulumil Hadits (Ibnu Katsir)
61. Tadribur Rawi (As-Suyuthi)
62. Muqaddimah Ibnu Shalah
63. Al-Manzhumah Al-Baiquniyah
64. Dhawabith Al-Jarh wa Ta’dil
65. Muwaththa' Imam Malik
66. Al-Muqizhah (Adz-Dzahabi)
67. Ar-Rihlah fi Thalabil Hadits (Al-Khathib Al-Baghdadi)
68. Sunan Tirmidzi 
Dan kutubul Hadits lainnya. 

V. BIDANG BAHASA ARAB (Nahwu, Shorof, Balaghah, Imla)
69. Matan Al-Ajrumiyyah (Serta At-Tuhfatun Saniyyah & At-Tuhfah Al-Washabiyyah)
70. Mutammimah Al-Ajrumiyyah
71. Qathrun Nada wa Ballush Shada
72. Muushil Thullab ila Qawaidul I’rab
73. Miftahun Nahwu lil Baadi-in
74. Asas At-Ta’allum An-Nahwu
75. 'Unwanuz Zharf fi Fannis Sharf
76. Shaza Al-'Arf (Ilmu Shorof)
77. Ash-Shorfu Ash-Shaghir
78. Syarah Alfiyyah Ibnu Malik
79. Al-Awamil Al-Mi’ah (Al-Jurjani)
80. Al-Balaghah Al-Wadhihah
81. Mabadi' fi 'Ilmil Balaghah & Zubdatul Balaghah
82. Al-Madkhal ila 'Ilmil Balaghah
83. Durusul Balaaghah
84. Qawaid fil Imla' (Abdul Salam Harun)
85. La'ali Al-Imla' & At-Ta'sis fil Imla'
86. Al-Qawaid Adz-Dzahabiyah & It-haf Al-Qari-in fil Imla'
87. Ushulul Insya’ wal Khithabah

VI. BIDANG AL-QUR'AN, TAJWID & TAFSIR:
88. Tafsir As-Sa'di (Taisir Karimir Rahman)
89. Tafsir Al-Jalalain
90. Tafsir Surah Al-Fatihah, Al-Mulk, &v Juz 'Amma
91. Matan Al-Jazariyah (Serta Fathu Rabbil Bariyah)
92. Tuhfatul Athfal
93. Kitab Azh-Zha-at fil Qur'anil Karim (Abu 'Amr Ad-Dani)
94. Al-Qa'idah An-Nuraniyah & Al-Qa'idah Al-Madaniyah
95. Al-Fawaid Al-Abiniyah (Tashil Qa'idah Nuraniyah)
96. Daf’u Iehamil Idhthirab (Asy-Syanqithi)
97. Manzhumah As-Sakhawiyyah & Al-Khaqaniyyah
98. Al-Waqf wal Ibtida’

VII. BIDANG ILMU FARAID & HISAB
99. Talkhis Fiqh Al-Faraid (Al-Utsaimin)
100. Manzhumah Ar-Rahabiyah
101. Ar-Raid fi 'Ilmil Faraid
102. Qawaid wa Dhawabith fi Fiqhil Faraid
103. Al-Ihtisab fi Qawaidil Hisab (Ilmu Hitung)

VIII. BIDANG ADAB, AKHAQ, MANHAJ & SIROH
104. Ad-Da’wah ilallah wa Akhlaqud Du’at (Ibnu Baz)
105. Min Musykilatisy Syabab (Al-Utsaimin)
106. Al-Adab 'Unwanus Sa'adah
107. Arju-zah Al-Mi-iyah (Sirah Nabawiyah)
108. Aujazul Siyar fi Sirati Khairil Basyar ﷺ
109. Dharuriyat At-Tafakkur (Al-Mu’allimi)
110. Al-Istidad lil Akhirah (Riqaq)
111. Iqtidhaul ‘Ilmi Al-‘Amal (Al-Khathib Al-Baghdadi)
112. Khulashah Ta’zhimil ‘Ilmi (Al-Ushaimi)
113. Al-Faraj Ba’da Syiddah & Kitabul Hulm (Ibnu Abi Dunya)
114. Asy-Syama’il Al-Muhammadiyah (At-Tirmidzi)
115. An-Naqdu Al-Adabi & Fiqhul Lughah
116. Al-'Arudh (Ibnu Jinni)
117. Mu-jaz fi Tarikh Al-Adab Al-Arabi
118. Buhur Asy-Syi’r Al-Arabi

Masih banyak yang belum disebutkan karna beberapa durus itu ada yang berupa dauroh ilmiah atau durus² yang berjalan di masjid² blok. Artinya masih lebih banyak lagi durus² yang selama setahun ini berjalan di Markaz Fuyush حرسها الله 

Semoga dengan informasi ini bisa bermanfaat dan memberikan gambaran bagi teman² para asatidz dan ikhwah² yang ingin melanjutkan belajar ilmu syar'i, memperluas khazanah keilmuan nya, Yaman bisa jadi tempat yang cocok buat antum sekalian. Biidznillah banyak kebaikan² yang akan antum dapatkan di negeri iman ini jika antum betul² ikhlas dan sungguh-sungguh karna Allah azza wa jalla.

Semoga Allah ta'ala mudahkan kita agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Aamiin

✍️ Jumat, 14 Syawal 1447H
Markiz Darul Hadits Fuyush, Yaman حرسها الله
@sorotan
Al akh rafi safilah

AKU ANAK DUA KHALIFAH

AKU ANAK DUA KHALIFAH

Salah satu fitnah besar kaum Syi’ah adalah anggapan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu hidup dalam permusuhan mendalam. Padahal, fakta sejarah justru menunjukkan adanya hubungan yang harmonis antara dua keluarga mulia ini. Di antara buktinya adalah pernikahan Umar bin Khattab dengan Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, putri Fatimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anhum.

Dari pernikahan itu lahirlah Zaid bin Umar. Ia adalah putra Umar dari jalur ayah, dan cucu Ali dari jalur ibu. Karena itu, ungkapan “Aku anak dua khalifah” sangat menggambarkan kemuliaan nasabnya. Pada diri Zaid bertemu dua rumah besar dalam Islam: rumah Umar dan rumah Ali. Ini menjadi bukti bahwa hubungan keduanya bukan hubungan kebencian, tetapi hubungan cinta, kepercayaan, dan pertalian keluarga.

Lebih indah lagi, sosok Zaid sendiri menjadi simbol hidup dari keharmonisan itu. Ia tidak lahir dari dua keluarga yang saling bermusuhan, tetapi dari dua keluarga yang terhubung oleh pertalian mulia. Karena itu, ungkapan “Aku anak dua khalifah” bukan sekadar kebanggaan nasab, tetapi juga bantahan telak terhadap semua cerita dusta yang ingin memisahkan antara keluarga Umar dan keluarga Ali. Pada diri Zaid, sejarah seolah berbicara dengan sangat jelas: yang ada bukan kebencian, tetapi kasih sayang; bukan permusuhan, tetapi kedekatan; bukan dendam turun-temurun, tetapi warisan kemuliaan.

Allah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama beliau keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”
(QS. Al-Fath: 29)

Ayat ini sangat sesuai dengan kenyataan sejarah para sahabat. Hubungan mereka dibangun di atas iman dan kasih sayang, bukan di atas dendam sektarian. Sejarah pun menunjukkan bahwa keluarga Umar dan keluarga Ali terhubung dalam pernikahan yang mulia. Kisah Zaid bin Umar adalah salah satu bukti paling indah tentang itu. Ia adalah anak Umar, cucu Ali, dan saksi hidup bahwa hubungan kedua keluarga itu berdiri di atas keharmonisan dan kemuliaan. 

Wallahu a'lam.
ustadz abul abbas aminullah 

Wajibkah belajar mantiq atau filsafat ?

Wajibkah belajar mantiq atau filsafat ?

kata ibnu taimiyah ndak wajib, karena mantiq hanya Salah satu alat untuk mengukur "kebenaran" bukan satu satunya. itupun didalamnya ada perbedaan pendapat seperti ilmu lain. Bahkan yang ada justru larangan para salaf untuk mempelajari ilmu ini.
Salah satu analogi beliau banyak cabang ilmu lain yang bisa mendapatkan "pencerahan" tanpa pakai mantiq misal kedokteran mereka pakai tajribah/ percobaan/ penelitian. Matematika pakai rumus rumusnya dan ilmu lainnya.

Beliau mencontohkan produk ilmu mantiq dalam ketuhanan yaitu konsep ketuhanan menurut aristoteles. ana cocokkan dengan Gemini hasilnya mirip.

Recommended untuk dibaca majmu fatwa ibnu taimiyah bagian mantiq. biar kita ndak silau dengan bahasa muter muternya orang filsafat. 

Cuma masyaikh kita kadang membolehkan belajar mantiq seperti Syaikh Sulaiman Ar-ruhaili klo ada keperluan misal untuk mendalami ushul fiqh atau membantah kelompok menyimpang.
ust febrian fahriansyah

Syaikh al-Albani :tentang Baiat dan Keluar dari Ketaatan (Khuruj)

 rekaman suara dari ulama ahli hadis ternama, **Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani** *rahimahullah*. 
##  Syaikh al-Albani :tentang Baiat dan Keluar dari Ketaatan (Khuruj)
**Penanya:**
"Pertama wahai Syaikh, mengenai masalah baiat. Banyak dari guru-guru kami berpendapat akan wajibnya baiat kepada penguasa yang ada di negeri-negeri kami. Namun, sebagian ikhwan mengadopsi pendapat ketidaksahan baiat tersebut. Tentu di balik pendapat ketidaksahan baiat ini, ada seruan untuk keluar dari ketaatan (*khuruj*) terhadap penguasa tersebut atau seruan untuk mengafirkan mereka. Mereka menganggap penguasa ini tidak layak dibaiat karena syarat-syaratnya tidak terpenuhi.
Sebagian guru kami menyimpulkan bahwa jika Anda tidak berbaiat kepada penguasa ini, berarti Anda setuju untuk memberontak (*khuruj*), sehingga orang tersebut dicap sebagai 'Khawarij'. Hal ini sangat tersebar di tempat kami. Apakah baiat kepada penguasa saat ini yang syarat-syaratnya belum terpenuhi itu jenisnya sama dengan baiat kepada jamaah-jamaah Islam yang ada di lapangan?"
**Syaikh al-Albani Menjawab:**
"Pendapat saya adalah: **Tidak ada baiat bagi penguasa mana pun kecuali jika ia dibaiat oleh jamaah kaum muslimin di seluruh dunia Islam**, bukan hanya di satu negara atau satu wilayah saja. Inilah baiat untuk Khalifah yang dipilih oleh *Ahlul 'Ilmi wal Fadhl* (orang-orang yang berilmu dan utama), kesalehan, dan ketakwaan. Bukan dipilih oleh rakyat jelata yang di dalamnya tercampur antara orang baik dan buruk, sebagaimana sistem yang sekarang disebut parlemen atau Majelis Ummah. Majelis Ummah seharusnya tidak diwakili oleh orang-orang bodoh dan fasik, melainkan oleh ahli ilmu dan kesalehan.
Majelis semacam ini, sangat disayangkan, tidak ada wujudnya saat ini di dunia Islam. **Oleh karena itu, tidak ada baiat.**
Namun, perlu ditambahkan pada peniadaan (baiat) ini: Bahwa konsekuensi yang mereka tetapkan—bahwa tidak adanya baiat berarti membolehkan keluar dari ketaatan (*khuruj*)—adalah kesimpulan yang salah. Kami katakan di sini: **Masalah keluar dari ketaatan (*khuruj*) kepada penguasa tidak ada kaitannya dan tidak terikat dengan ada atau tidak adanya baiat.**
Mengapa? Karena tidak ada keterkaitan antara ketiadaan baiat dengan pembolehan pemberontakan. Begini penjelasannya:
 1. Seseorang bisa saja sudah dibaiat dengan baiat yang sah secara syar'i, namun tetap boleh (bahkan wajib) dikeluarin dari ketaatannya. Kapan? Yaitu ketika kita melihat kekafiran yang nyata (*kufran bawahan*) sebagaimana disebutkan secara tegas dalam hadis. Jadi, adanya baiat tidak lantas menghalangi *khuruj* (jika syarat kafir nyata terpenuhi).
 2. Begitu juga sebaliknya, tidak adanya baiat tidak berarti boleh melakukan pemberontakan. Tidak ada hubungan antara keduanya, baik secara positif maupun negatif.
Saya katakan sekarang: Di dunia Islam saat ini, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada satu pun pemerintahan Arab yang dibaiat dengan baiat syar'i (kecuali di tempat kalian menurut sebagian ulama). Lalu, apakah boleh bagi rakyat di negara-negara Arab tersebut untuk memberontak kepada penguasa mereka dengan alasan mereka belum membaiatnya?
Jika mereka (orang-orang yang mewajibkan baiat) berkata bahwa 'tidak berbaiat berarti membolehkan pemberontakan', maka secara logika mereka harus membolehkan rakyat di seluruh negeri Arab untuk memberontak karena tidak adanya baiat syar'i tersebut. Dan saya yakin, mereka sendiri pun tidak akan membolehkan pemberontakan di negara-negara Arab lainnya.
Keyakinan saya adalah: **Masalah memberontak atau tidak, bukan didasari oleh ada atau tidak adanya baiat.** Seandainya ada seorang Khalifah yang dibaiat secara sah, namun kemudian ia menunjukkan kekafiran yang nyata, maka tidak ada ulama yang mengatakan tidak boleh keluar darinya. Sebaliknya, jika ada penguasa muslim yang menjalankan sebagian isi Al-Qur'an dan meninggalkan sebagian lainnya—bukan dalam konteks mengafirkan ayat tersebut, tapi sekadar tidak mengamalkannya—meskipun ia tidak dibaiat secara syar'i, hal itu tidak berarti boleh memberontak kepadanya.
Sebab, keluar dari ketaatan kepada penguasa—meskipun mereka itu pemberontak (*bughat*) yang merebut kekuasaan dari Khalifah sah dengan pedang dan senjata lalu mereka berkuasa di tengah manusia—**maka tetap tidak boleh memberontak kepada penguasa (yang sudah mapan) tersebut demi menjaga darah kaum muslimin.**
Jadi, mengaitkan kewajiban baiat dengan 'jika tidak baiat berarti boleh memberontak' adalah logika yang tidak nyambung (*la talazuma*). Saya katakan dengan sangat jelas: Selama para ulama belum berkumpul di negeri-negeri Islam untuk membaiat seseorang yang berhak, maka tidak ada baiat (syar'i universal).
Meskipun demikian, saya tegaskan: **Tidak boleh keluar dari ketaatan (memberontak) kepada para penguasa ini.** Karena dampaknya adalah apa yang kita lihat sekarang. Di Palestina, mereka dikuasai oleh Yahudi. Apakah ada yang lebih buruk dari Yahudi? Meskipun begitu, kami katakan (jangan gegabah), jangan sampai darah muslim tumpah sia-sia karena dorongan orang-orang yang lalai, atau saya sebut orang-orang bodoh. Mereka mendorong pemuda kita berjuang dengan batu dan sebagainya (tanpa persiapan), jika situasi ini terus berlanjut, rakyat Palestina akan habis dan negara Palestina akan menjadi santapan empuk bagi Yahudi. Ini bertolak belakang dengan keinginan orang-orang yang hanya bisa menyemangati tapi tidak membantu dengan perbaikan, personel, maupun harta.
Maka, wahai saudaraku, tidak boleh kita menghubungkan antara baiat dengan pemberontakan.
 * Bisa jadi baiatnya sah, tapi wajib keluar darinya jika ditemukan sebab syar'i (kekafiran nyata).
 * Bisa jadi tidak ada baiat, tapi tetap tidak boleh keluar darinya karena tidak ditemukan sebab syar'i.
Sebab syar'i itu adalah kekafiran yang nyata (*al-kufru al-bawah*). Bahkan saya katakan: Seandainya pun ditemukan kekafiran yang nyata (seperti contoh di Aljazair baru-baru ini), apakah boleh memberontak jika belum dipersiapkan kekuatannya (*i'dad*)? Jawabannya: **Tidak boleh.** Ini adalah perkara yang disepakati.
Jadi, argumen mereka itu tidak ilmiah. Saya sampaikan ini dengan jujur, semoga saya telah menjawab pertanyaanmu. Jazakallahu khair."
**Ringkasan Inti:**
 1. **Baiat Syar'i:** Saat ini tidak ada sistem kekhalifahan tunggal yang dibaiat oleh seluruh ulama dunia Islam, sehingga secara teknis "Baiat Kubra" itu tidak ada.
 2. **Larangan Memberontak:** Meski baiat syar'i tidak ada, bukan berarti rakyat boleh memberontak (*khuruj*). Menjaga keamanan dan darah kaum muslimin jauh lebih utama.
 3. **Syarat Khuruj:** Pemberontakan hanya dibahasakan dalam agama jika penguasa melakukan kekafiran yang nyata, itu pun harus dengan syarat memiliki kemampuan fisik dan persiapan yang matang agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

الاول يا شيخ في قضيه البيعه يعني كثير من مشايخنا يرى وجوب
0.11 للحاكم الموجود في بلادنا وبعض الاخوان تبنى راي عدم حقيه
0.20 للبيعه طبعا ما وراء هذا عدم احقيته للبيعه يعني وراها مثلا الدعوه للخروج على
0.29 الحاكم هذا او الدعوه الى تكفيره لكن هذا الحاكم ليس اهل للبيعه لان ما توفرت فيه
0.37 الشروط بعض مشايخنا يرتب على عدم بيعتك لهذا الحاكم انك ترى
0.46 الخروج عليه ومن ثم يطلق على هذا الشخص انه خارجي وهذا منتجر كثير جدا جدا
0.56 عندنا فهل بيعت الحكام الموجودين الان الذين لم تتوفر فيهم الشروط
1.03 ا لم تتوفر الشروط لبيعته من جنس البيعه للجماعات الاسلاميه الموجوده في
1.11 الساحه انا رايي ليس هناك
1.21 بيعه لاي حاكم الا اذا بيع من جماعه المسلمين
1.31 في العالم الاسلامي وليس في بلد
1.37 واحد او في اقليم واحد هذه هي البيعه للخليفه
1.46 الذي يختار من قبل اهل العلم والفضل والصلاه
1.53 والتقوى وليس من الله الحاد م الله الناس الذين فيهم
1.53 والتقوى وليس من عامه الناس الذين فيهم الص
2.01 والطالح كما هو الان طريق ما يسمون ببرلمان
2.07 او فسروا هذه الكلمه الاجنبيه الى مجلس الامه فمجلس
2.15 الامه لا يمثله الرعاء والجهله
2.20 والفسق وانما يمثله اهل العلم والفضل والصلاح
2.28 ومثل هذا المج مع الاسف الشديد لا وجود له اليوم في العالم
2.35 الاسلامي ولذلك فلا بيعه
2.42 ولكن لابد من اضافه الى هذا النفي ان
2.42 ولكن لابد من اضافه الى هذا النفي ان
المحظور الذي
2.51 رتبو او الالزام الذي الجموهريه
3.00 عدم البيعه أن معنى ذلك انه يجيز
3.06 الخروج على هذا او ذاك الحاكم الذي لم
3.16 يبايع فنحن نقولها هنا الخروج على
3.23 الحاكم ليس منوطا ولا مربوطا
3.32 بالبيعه او بعدمها ذلك
3.40 لانه لا تلازم بين السلب والايجاب
3.47 احد يكون رجل مبايع بيعه
3.47 ا قد يكون رجل مبايع بيعه
3.56 شرعيه ومع ذلك يجوز الخروج عليه
4.02 بويع بيعه شرعيه مع ذلك يجوز الخروج عليه متى
4.10 حينما نرى كفرا بواحا كما جاء في الحديث صراحه
4.15 اذا لا يلزم من البيعه عدم الخروج كذلك على العكس
4.22 تماما لا يلزم من عدم البيعه جواز الخروج فلا ارتباط بين الامرين سلبا او
4.32 ايجابا فانا اقول الآن ليس هناك في العالم
لا توجد بيعة لحكام هذا الزمان ولا يلزم من ذلك. ز الخروج عليهم
مز موجد بيعة لحكام هذا الزموجد بيعة لحكام هذا الزموجد بيعة حكام هذا الزموجد بيعة لحكام هذا الزموجد بيعة لحكام هذا الله زم من ذلك جواز الخروج م من ذلك جواز الخروج ترم من ذلك جواز الخروج أم من ذلك جواز الخروج م من ذلك جواز الخروج
4.32 ايجابا فانا اقول الان ليس هناك في العالم الاسلامي فيما
4.42 اعلم حكومه من الحكومات العربيه بيعت بیعه
4.50 شرعيه الا عندكم فيما يقول بعض أهل العلم كما
4.57 تنقل فهل يجوز على هذه الشعوب الخروج على هؤلاء
5.05 الحكام بحجه انهم لم يبايعوا أولئك الذين
5.13 يستلزم وجوب البيعه لانهم يقولون اذا لم يبايع معنى
5.20 ذلك انه يجيز الخروج اذا معنى كلامهم انه يجوز على هؤلاء
5.28 الشعوب الذي يعيشون في بلاد العربيه وفي
5.35 بحكومات لم تبايع الشعوب اذا يجوز الخروج على هذه الحكومات
5.43 واعتقد ان نفس اولئك الذين استلزم من عدم البيعه الخروج لا يجيزون
5.52 الخروج في البلاد العربيه الاخرى وانا هذا اعتقادي
6.01 الخروج وعدمه ليس منوط بالبيعه سلبا او
6.01 الخروج وعدمه ليس منوطا بالبيعه سلبا او ایجابا أي لا يعني انه
6.11 اذا وجد خليفه نقول بويع بيعا مبايعه شرعيه
6.19 لكنه اظهر الكفر الصريح انه لا يجوز الخروج عليه هذا ما يقول عالم كذلك العكس
6.27 تماما اذا كان هناك حاكم مسلم يحكم ببعض الكتاب ولا يحكم بالبعض الآخر لا اقول
6.36 يحكم ببعض الكتاب ويكفر بالبعض لا يحكم ببعض الكتاب ولا يحكم بالبعض الآخر فهو لم
6.46 يبايع وهذا لا يعني انه يجوز الخروج لان
6.36 يحكم ببعض الكتاب ويكفر بالبعض لا يحكم ببعض الكتاب ولا يحكم بالبعض الآخر فهو لم
6.46 يبايع وهذا لا يعني انه يجوز الخروج لان الخروج على
6.54 الحكام مهما كان شانهم لنفترض انهم
7.01 بغاه وخرجوا على الخليفه الشرعي وبالقوه بالسيف بالبارود
7.10 بالسلاح وضع يده على الحكم وحكم بين الناس فلا يجوز الخروج على هذا
7.18 الباغي كل ذلك للمحافظه على دماء المسلمين اذا تعليل وجوب البيعه بانه اذا
7.18 الباغي كل ذلك للمحافظه على دماء المسلمين اذا تعليل وجوب البيعه بانه اذا
7.29 لم يب يبايع معنى ذلك انه يجيد الخروج لا تلازم انا اقول الان بكل صراحه ما لم
7.38 يجتمع علماء المسلمين في البلاد الاسلاميه لمبايعه انسان يستحق البيعه فلا بيعه مع
7.49 ذلك مع ذلك اقول لا يجوز الخروج على هؤلاء الحكام لان من وراء ذلك ما نراه الان في
7.59 فلسطين فلسطين يحكمون من اليهود وهل اخبث من اليهود مع ذلك نقول تذهب دماء المسلمين
8.09 هكذا هدرا بتشجيع اهل الغفله وقد اقول
8.09 هكذا هدرا بتشجيع اهل الغفله وقد اقول احيانا اهل الجهل هدون
8.18 شبابنا ودون المجاهدين بالحجاره والى اخره واذا استمر الوضع على هذه الطريقه سيفنا الشعب
8.27 الفلسطيني وتبقى الدوله الفلسطينيه هي لليهود لقمه سائغه خلاف ما
8.36 يريد هؤلاء الناس الذين يشجعون ثم لا يمدون لا
8.43 بالصلاح ولا بالرجال ولا بالاموال ولا الى اخره
8.49 فاذا لا يجوز يا اخي أن نربط بين البيعه
8.49 فاذا لا يجوز يا اخي ان نربط بين البيعه وبين
8.55 الخروج قد تكون البيعه شرعيه ويجب الخروج حينما يوجد ايش سببه
9.02 الشرعي وقد لا تكون بيعه ولا يجوز الخروج لانه لم يوجد السبب
9.10 الشرعي السبب الشرعي هو الكفر البواححتى انا اقول
9.16 هب انه وجد الكفر البواهر مثلا ثم الجزائر اخيرا فهل يجوز
9.26 الخروج وما اعدوا له عدته هو الجواب لا
9.02 الشرعي وقد لا تكون بيعه ولا يجوز الخروج لانه لم يوجد السبب
9.10 الشرعي السبب الشرعي هو الكفر البواححتى انا اقول
9.16 هب انه وجد الكفر البواهر مثلا ثم الجزائر اخيرا فهل يجوز
9.26 الخروج وما اعدوا له عدته هو الجواب لا هذا امر متفق عليه اذا ايش معنى هذا
9.35 الكلام هذا كلام غير علمي انا اقول بصراحه لعلي اجبتك عن سؤالك وجزاك الله خير وص
9.43 سجل صوتك بالموافقه نعم
https://youtu.be/xbmjk84dLIM?si=HlZAEEZVzNejlCW5
Syaikh albani

السؤال:بعض الفرق المعاصرة تعقد البيعة لأمرائها الذين يختارونهم من أنفسهم، ويرون وجوب السمع والطاعة لهم، وعدم نقض بيعتهم، وهم تحت ولاة الأمراء الشرعيين الذين بايعهم عموم المسلمين. هل يجوز ذلك؟ أي بمعنى أن يكون في عنق الفرد أكثر من بيعة، وما مدى صحة هذه البيعات؟/Sebagian kelompok kontemporer (masa kini) mengadakan baiat kepada pemimpin-pemimpin yang mereka pilih sendiri. Mereka berpendapat bahwa wajib hukumnya untuk mendengar dan taat kepada pemimpin tersebut, serta tidak boleh membatalkan baiatnya, padahal mereka berada di bawah kekuasaan para penguasa syar'i yang telah dibaiat oleh kaum muslimin secara umum.​Apakah hal tersebut diperbolehkan? Dalam artian, apakah boleh bagi seseorang memiliki lebih dari satu baiat di lehernya? Dan sejauh mana keabsahan baiat-baiat semacam ini?

حكم من عقد بيعة لغير ولاة الأمور - موقع الشيخ ابن باز https://share.google/cMrGBsUXcKJhY6l3J

الجواب:
هذه البيعة باطلة ولا يجوز فعلها؛ لأنها تفضي إلى شق العصا، ووجود الفتن الكثيرة، والخروج على ولاة الأمور بغير وجه شرعي، وقد صح عن النبي ﷺ أنه قال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافًا كثيرًا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة[1].
وصح عنه ﷺ أنه قال: على المرء السمع والطاعة فيما أحب وكره، ما لم يؤمر بمعصية الله، فإن أمر بمعصية الله فلا سمع ولا طاعة[2].
وقال ﷺ: إنما الطاعة في المعروف[3].
وقال ﷺ: من رأى من أميره شيئًا من معصية الله فليكره ما يأتي من معصية الله ولا ينزعن يدًا من طاعة[4].
والأحاديث في ذلك كثيرة جدًا، كلها دالة على وجوب السمع والطاعة لولاة الأمر في المعروف، وعدم جواز الخروج عليهم، إلا أن يأتوا كفرًا بواحًا عند الخارجين عليهم فيه من الله برهان.
ولا شك أن وجود البيعة لبعض الناس يفضي إلى شق العصا، والخروج على ولي الأمر العام فوجب تركه، وحرم فعله.
ثم إنه يجب على من رأى من أميره كفرًا بواحًا أن يناصحه حتى يدع ذلك، ولا يجوز الخروج عليه، إذا كان الخروج يترتب عليه شرًا أكثر؛ لأن المنكر لا يزال بأنكر منه، كما نص على ذلك أهل العلم رحمهم الله، كشيخ الإسلام ابن تيمية، والعلامة ابن القيم رحمة الله عليهما، والله ولي التوفيق[5].
 
أخرجه الترمذي في كتاب العلم، باب ما جاء في الأخذ بالسنة واجتناب البدع برقم 2676، وابن ماجه في المقدمة، باب اتباع سنة الخلفاء الراشدين المهديين برقم 42، وأحمد في مسند الشاميين، حديث العرباض بن سارية عن النبي صلى الله عليه وسلم برقم 16694.
أخرجه مسلم في كتاب الإمارة؛ باب وجوب طاعة الأمراء في غير معصية الله برقم 1839.
أخرجه البخاري في كتاب المغازي، باب سرية عبدالله بن حذافة السهمي برقم 4340، ومسلم في كتاب الإمارة، باب وجوب طاعة الأمراء في غير معصية الله برقم 1840، واللفظ لمسلم.
أخرجه مسلم في كتاب الإمارة، باب خيار الأئمة وشرارهم برقم 1855.
من ضمن الأسئلة الموجهة لسماحته من (جريدة المسلمون). (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 28/250).


 **Jawaban:**
Baiat (janji setia) semacam ini **batil dan tidak boleh dilakukan**; karena hal itu dapat memicu perpecahan (memecah belah tongkat ketaatan), menimbulkan banyak fitnah, dan keluar dari ketaatan terhadap penguasa (*ulul amri*) tanpa alasan syar’i yang benar. Telah shahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda:
> *"Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup (lama), ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan."* [1]
Telah shahih pula dari beliau ﷺ bahwa beliau bersabda:
> *"Wajib bagi setiap Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci, selama tidak diperintahkan untuk bermaksiat kepada Allah. Jika diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban untuk mendengar maupun taat."* [2]
Beliau ﷺ juga bersabda:
> *"Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang makruf (baik)."* [3]
Dan beliau ﷺ bersabda:
> *"Barangsiapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu yang berupa maksiat kepada Allah, maka bencilah kemaksiatan yang ia lakukan tersebut, namun janganlah ia melepas tangan dari ketaatan (kepadanya)."* [4]
Hadis-hadis mengenai hal ini sangat banyak, semuanya menunjukkan **wajibnya mendengar dan taat kepada penguasa dalam hal yang baik**, serta tidak bolehnya memberontak atau keluar dari ketaatan mereka, kecuali jika mereka melakukan kekufuran yang nyata (*kufrun bawwah*), yang di sisi kalian terdapat bukti yang nyata dari Allah atas kekufuran tersebut.
Tidak diragukan lagi bahwa adanya baiat (rahasia/khusus) kepada sebagian orang dapat memicu perpecahan dan pembangkangan terhadap penguasa umum, maka wajib untuk meninggalkannya dan haram hukumnya dilakukan.
Selanjutnya, bagi siapa saja yang melihat kekufuran yang nyata dari pemimpinnya, wajib baginya untuk menasihatinya hingga ia meninggalkan hal tersebut. Namun, **tidak diperbolehkan memberontak jika tindakan tersebut justru mengakibatkan keburukan (kerusakan) yang lebih besar**; karena suatu kemungkaran tidak boleh dihilangkan dengan kemungkaran yang lebih parah, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama rahimahumullah, seperti Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dan Al-Allamah Ibnul Qayyim *rahmatullahi 'alaihima*. Hanya Allah-lah pemberi taufik. [5]
### **Referensi:**
 1. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Al-Ilmu (2676), Ibnu Majah dalam Al-Muqaddimah (42), dan Ahmad (16694).
 2. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al-Imarah (1839).
 3. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghazi (4340) dan Muslim dalam Kitab Al-Imarah (1840).
 4. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al-Imarah (1855).
 5. Diambil dari kumpulan pertanyaan yang diajukan kepada Syekh bin Baz oleh surat kabar *Al-Muslimun*. (*Majmu’ Fatawa wa Maqalat Asy-Syaikh Ibn Baz 28/250*).

Fardhu Kifayah Yang Kini Ditinggalkan

Fardhu Kifayah Yang Kini Ditinggalkan 

Syaikh Ahmad bin Nashir Al-Qu'aimi hafizhahullah mengatakan,

Di antara FARDHU KIFAYAH dalam j|had adalah: Bahwa waliyul amri WAJIB mengirimkan pasukan SETIAP TAHUNNYA untuk menyerang musuh di negeri mereka, setelah sebelumnya menyeru mereka untuk masuk Islam.

📚 Faidhul Jalil 'ala Matn Dalil, 2/5-6
UIn

Ketahuilah, melakukan adzan di kuburan bukan perbuatan sunnah

Murni faidah 
Pertanyaan kemarin:
Bismillah...
Assalamu'alaikum ustadz...
Ijin bertanya, tadi waktu penguburan ustadz feby, apakah ada adzan? Mengingat syaikh Labib bermadzhab syafii, syukran ustadz

Jawaban:
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Tidak ada adzan.
Ada Qaul yang mengatakan bukan Perbuatan Sunnah dan ada Qaul yang mengatakan itu perbuatan Sunnah.
dalam kitab I’anah Ath- Thalibin disebutkan:

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا يُسَنُّ الْأَذَانُ عِنْدَ دُخُوْلِ الْقَبْرِ خِلاَفًا لِمَنْ قَالَ بِسُنِّيَتِهِ قِيَاسًا لِخُرُوْجِهِ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى دُخُوْلِهِ فِيْهِ.(إعا نة الطالبين ج ١ص ٢٣٠)

“Ketahuilah, melakukan adzan di kuburan bukan perbuatan sunnah. Berbeda dengan orang yang berpendapat bahwa perbuatan itu sunnah, karena keluarnya dari dunia diqiyaskan pada masuknya seseorang ke dunia (Ketika dilahirkan).”  (I’anah ath Thalibin, juz 1, hal 230)
Semoga Bermanfaat
Ulyt

Catatan Kelam Fanatisme Madzhab di Masa Lalu

Catatan Kelam Fanatisme Madzhab di Masa Lalu

​Ibnu Al-Mabrad Al-Hanbali menceritakan, setelah beliau memaparkan deretan hadis yang dicantumkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam bab [Bantahan terhadap Abu Hanifah] di kitab Al-Mushannaf-nya:

​Saya mendengar dari ayah saya, bahwa gara-gara masalah ini, Al-Hafiz Syamsuddin Ibnu Abdil Hadi (murid Ibnu Taimiyah) sampai terbunuh. 

Ceritanya, sekelompok orang dari kalangan Hanafi mendatangi beliau saat beliau sedang menyalin bab tersebut. Mereka menyangka beliau sedang menyusun bantahan itu sendiri, padahal beliau sedang menyalinnya.

​Hal itu memicu fitnah (keributan) yang hebat. Sempat terjadi perdamaian di antara mereka, namun mereka kemudian meracuni makanan yang ia makan hingga menyebabkan kematiannya. 

Saya juga mendengar ayah saya berkata: Begitu selesai memakan makanan tersebut, ia bahkan belum sampai ke rumah ketika tiba-tiba jatuh tersungkur dan wafat saat itu juga.

​(Al-Muntaqa min Tanwir Ash-Shahifah, hlm. 125)

___

*- من جرائم متعصبة المذاهب في حق مخالفيهم

قال ابن المبرد الحنبلي :  بعد أن سرد الأحاديث التي أوردها الإمام ابن أبي شيبة في كتاب [الرد على أبي حنيفة] من مصنّفه: " وقد سمعت من والدي أنه بسبب هذا قُتِل الحافظ شمس الدين ابن عبد الهادي ( صاحب ابن تيمية)، فإنه دخل عليه جماعة من الحنفية وهو يكتب في ذلك، فظنوه يصنفه، وأنه هو وضع ذلك، فعملوا له فتنة، ثم وقع الصلح بينهم، ثم سمّوه في طعامٍ أكله، فمات منه، وسمعته يقول: إنه لما أكله لم يصل إلى البيت حتى وقع ومات ".

[المنتقى من تنوير الصحيفة](ص: 125).

​أبو الوليد المغربي
Uin

Ketika suami mentalak istrinya yg sudah "didukhul", menurut madzhab Syafi'i, si suami berkewajiban memberikan istrinya "mut'ah", semacam hadiah untuk mengobati hatinya.

Ketika suami mentalak istrinya yg sudah "didukhul", menurut madzhab Syafi'i, si suami berkewajiban memberikan istrinya "mut'ah", semacam hadiah untuk mengobati hatinya.

Kata Imam Nawawi, hak mut'ah ini di antara yg sering dilupakan oleh para perempuan, maka hendaknya hal ini dikenalkan dan disosialisasikan pada mereka, agar mereka tau hak mereka ketika diceraikan.

Besar Mut'ah ini kembali ke 'urf, tidak ada ketentuan dari Syari'at mengenai nominalnya. Mut'ah ini boleh berupa apapun, selama masih dianggap sebagai harta, bisa dalam bentuk uang, pakaian, perhiasan, atau yg lain.

Dalam madzhab Syafi'i, ketika suami dan istri berselisih mengenai nominal mut'ah, maka masalah ini diangkat ke qodhi, nanti qodhi yg memutuskan nominal mut'ahnya.

Dalam Madzhab Syafi'i, memberi mut'ah kepada istri setelah diceraikan itu wajib di 3 keadaan, di antaranya adalah ketika istri sudah dijima', berdalil dengan keumuman firman Allah,

وَمَتِّعُوهُنَّ عَلَى ٱلْمُوسِعِ قَدَرُهُۥ وَعَلَى ٱلْمُقْتِرِ قَدَرُهُۥ مَتَٰعًۢا بِٱلْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ.

وَلِلْمُطَلَّقَٰتِ مَتَٰعٌۢ بِٱلْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى ٱلْمُتَّقِينَ
__

Ini adalah bentuk bagaimana Islam memuliakan istri, selain diberikan mahar dan dijamin nafkahnya selama masa iddah, mereka juga diberikan mut'ah.
ust amru hamdany

Selama penguasa tersebut tidak kafir (keluar dari Islam), maka wajib untuk mendengar dan taat kepadanya dalam hal-hal yang makruf (baik).

0.00 هذا يقول شيخنا لا شك اننا نعيش في غربه شديده وهذه

0.08 الغربه تشتد اذا كان في مثل بلاد لا يوجد فيها علماء والحاكم

0.18 في نعم والحاكم مسلم والدوله لا تحكم بالشريعه ونرى البيعه والسمع والطاعه

0.25 للحاكم ويوجد اناس ينسبون الى السنه ينبزوننا بطائفه اهل البيعه اذا كان هذا

0.35 الحاكم لم يكفر فانهم يجب السمع والطاعه له في المعروف

0.42 واذا نبزوكم بانكم جماعه البيع لا ي ضركم انتم متبعون

0.49 لا مبتدعون فالنبي صلى الله عليه وسلم قد قال من مات وليس في عنقه بيعه مات ميته
0.49 لا مبتدعون فالنبي صلى الله عليه وسلم قد قال من مات وليس في عنقه بيعه مات ميته

0.57 جاهليه فخلوكم انتم مع البيعه وهو هذا يخرج عن البيعه ويموت ميته تشبه ميته اهل الجاهليه

1.06 وكفاهم بهذا ولا يضرك ايها الاخ السائل واذا اردت ان تسلم من الكلام هذا محال ما

1.15 يمكن المرء من ضد ولو حاول العزله في راس الجبل

1.23 ما يخلو لابد وان يتكلم في فلا يضرك ايها

1.29 الاخ السائل ان يقال فيك ما قيل

"Penanya berkata: Wahai Syaikh kami, tidak diragukan lagi bahwa kita hidup di masa keterasingan (*ghurbah*) yang sangat hebat. Keterasingan ini semakin terasa jika berada di negeri yang tidak ada ulamanya, sementara penguasanya adalah seorang muslim namun negara tersebut tidak menerapkan syariat secara penuh. Kami berpandangan bahwa tetap ada kewajiban baiat, mendengar, dan taat kepada penguasa tersebut. Namun, ada orang-orang yang menisbatkan diri kepada Sunnah justru menggelari kami dengan sebutan 'Kelompok Ahli Baiat' (sebagai ejekan).
**Jawaban Syaikh:**
Selama penguasa tersebut tidak kafir (keluar dari Islam), maka wajib untuk mendengar dan taat kepadanya dalam hal-hal yang makruf (baik).
Jika mereka mengejek kalian sebagai 'Kelompok Baiat', maka hal itu tidaklah membahayakan kalian. Kalian adalah pengikut sunnah (*muttabi’un*), bukan pembuat bid'ah (*mubtadi’un*). Nabi \small \text{صلى الله عليه وسلم} telah bersabda:
> *'Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.'*
Maka tetaplah kalian berada dalam baiat tersebut. Justru orang yang mengejek itulah yang keluar dari baiat, dan ia terancam mati dengan kematian yang menyerupai kematian ahli jahiliyah. Cukuplah hal itu bagi mereka (sebagai peringatan).
Janganlah hal itu menyakitimu wahai penanya. Jika engkau ingin selamat dari lisan manusia, itu adalah hal yang mustahil. Seseorang tidak akan bisa lepas dari penentang, meskipun ia mencoba mengasingkan diri di puncak gunung sekalipun; ia tetap tidak akan selamat dari pembicaraan orang. Maka janganlah bersedih wahai penanya atas apa yang mereka katakan tentangmu."
### **Poin-Poin Penting Ringkasan:**
 * **Prinsip Ketaatan:** Selama pemimpin itu muslim, kewajiban mendengar dan taat dalam kebaikan tetap berlaku meskipun negara tidak menerapkan syariat secara penuh.
 * **Legalitas Baiat:** Memiliki komitmen baiat kepada pemimpin muslim adalah perintah syariat untuk menghindari "mati jahiliyah".
 * **Keteguhan Hati:** Label negatif atau ejekan dari orang lain tidak seharusnya menggoyahkan seseorang yang berada di atas jalan yang benar (Sunnah).
 * **Realitas Sosial:** Mengharap ridha atau keselamatan dari lisan manusia adalah hal yang mustahil dilakukan.
https://youtu.be/Ug1Su-vX7xE?si=YlUXWPOoFjPs9v9E
Syaikh muhammad bin hadi al madkholi

Potret perbedaan di kalangan syeikh syeikh saudi arabia, monggo bagi yang bisa mampu menyimak, disimak agar melek fakta di lapangan dan dada anda menjadi lebar.

Potret perbedaan di kalangan syeikh syeikh saudi arabia, monggo bagi yang bisa mampu menyimak, disimak agar melek fakta dinlapangan dan dada anda menjadi lebar.

https://youtu.be/zDTDmis9h44?si=OQyXLtL4V9CjijgL

https://youtu.be/Ug1Su-vX7xE?si=2h0A71r2-k-tmUM5

https://youtu.be/jYsyq_jc8rw?si=LH0okXDxP4EnEKxL
Ini yang ulama Yaman juga ustadz

هل يستحق حكام المسلمون البيعة ؟

نص الإجابة:
هذا نحيله إلى حكام المسلمين ؛ نقول لهم إن كانوا عملاء لأمريكا - وهم أعلم بأنفسهم - فلا تصح لهم البيعة ، وإن لم يكونوا عملاء لأمريكا وكانوا يطبقون الشريعة الإسلامية فتصح لهم البيعة 

https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=535
Ust fadhel ahmad 

baiat kepada para penguasa kaum muslimin

Ini yang ulama Yaman juga ustadz

هل يستحق حكام المسلمون البيعة ؟

نص الإجابة:
هذا نحيله إلى حكام المسلمين ؛ نقول لهم إن كانوا عملاء لأمريكا - وهم أعلم بأنفسهم - فلا تصح لهم البيعة ، وإن لم يكونوا عملاء لأمريكا وكانوا يطبقون الشريعة الإسلامية فتصح لهم البيعة 

https://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=535
Ust fadhel ahmad 


> "Tentang sahnya baiat kepada para penguasa kaum muslimin, ini saya serahkan kepada para penguasa kaum muslimin. Kami katakan kepada mereka, jika mereka adalah agen Amerika dan loyal dengan diri mereka sendiri (kepada Amerika), maka baiat kepada mereka tidak sah. Dan jika mereka bukan agen Amerika dan mereka menerapkan syariat Islam, maka baiat kepada mereka adalah sah. Jawabannya sudah memadai, wahai saudara-saudara? Ya? [Audiens menjawab: 'Meskipun mereka dipaksa?'] Tidak, tidak, jika dipaksa maka sah, jika dipaksa maka sah. Ya."
### Terjemahan Poin Utama
Berdasarkan rekaman tersebut, berikut adalah poin-poin hukum yang disampaikan:
 * **Syarat Ketidakabsahan Baiat:** Baiat dianggap tidak sah apabila penguasa tersebut terbukti menjadi agen kepentingan asing (dalam hal ini disebutkan Amerika) dan menunjukkan loyalitas kepada mereka.
 * **Syarat Keabsahan Baiat:** Baiat dianggap sah apabila penguasa bukan merupakan agen asing dan berkomitmen untuk menerapkan syariat Islam.
 * **Kondisi Pemaksaan:** Dalam sesi tanya jawab di akhir rekaman, dijelaskan bahwa jika seorang penguasa berkuasa melalui paksaan (misal: kudeta atau kekuatan), baiat tersebut tetap dianggap sah.


Rabu, 01 April 2026

Seni Melatih Nalar : Metode Unik Imam Abu Hanifah dalam Mengajar Fiqih

Seni Melatih Nalar : Metode Unik Imam Abu Hanifah dalam Mengajar Fiqih

​Dan di antara metode beliau (Abu Hanifah) dalam mengajar fiqih adalah: Bahwa ketika sedang mengkaji suatu masalah bersama murid-muridnya, beliau akan melontarkan sebuah kemungkinan pendapat, lalu beliau mendukungnya dengan argumen sekuat tenaga dari berbagai sisi. Kemudian beliau bertanya kepada murid-muridnya: 
Apakah kalian punya argumen untuk menyanggahnya?

​Jika beliau mendapati mereka semua setuju dan menerima pendapat tersebut, beliau sendiri yang kemudian mulai mematahkan pendapat pertamanya tadi, hingga para pendengar yakin akan kebenaran pendapatnya yang kedua. Lalu beliau bertanya lagi tentang pandangan mereka terhadap pendapat yang baru ini.

​Jika beliau melihat mereka tidak punya sanggahan lagi, beliau akan mengambil sudut pandang ketiga, sehingga semuanya beralih ke pendapat ketiga tersebut. Pada akhirnya, beliau akan menetapkan hukum pada salah satu pendapat yang dinilai paling benar dengan dalil-dalil yang kuat. Inilah metode pengajaran fiqih yang menjadi ciri khas istimewa Abu Hanifah dan para sahabat (murid) beliau.

​Ibnu Hajar al-Makki asy-Syafi'i berkata: Sebagian imam berkata: Tidak ada seorang pun di antara para imam Islam ternama yang memiliki murid-murid sekaliber murid Abu Hanifah. Para ulama maupun masyarakat umum tidak mendapatkan manfaat sebesar yang mereka peroleh melalui beliau dan para muridnya dalam hal penjelasan hadis-hadis yang samar (musytabihah), masalah-masalah yang digali hukumnya (mustanbathah), kasus-kasus kontemporer (nawazil), hukum peradilan, serta ketetapan hukum syariat.
Ibn nashrullah 

NAMA-NAMA ITU MEMBANTAH MEREKA: BUKTI CINTA DAN KESETIAAN ALI KEPADA PARA SAHABAT

NAMA-NAMA ITU MEMBANTAH MEREKA: BUKTI CINTA DAN KESETIAAN ALI KEPADA PARA SAHABAT

Salah satu propaganda besar dalam ajaran Rafidhah adalah menanamkan keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu memendam permusuhan terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiyallahu ‘anhum. Dari sinilah kemudian dibangun narasi panjang tentang “perampasan hak”, “pengkhianatan”, dan permusuhan turun-temurun antara Ahlul Bait dengan para sahabat utama Nabi ﷺ. Namun anehnya, propaganda sebesar ini justru dipatahkan oleh fakta yang sangat sederhana, sangat manusiawi, dan sangat sulit dibantah: Ali dan keturunannya justru menamai anak-anak mereka dengan nama Abu Bakar, Umar, Utsman, bahkan nama-nama mulia lain dari kalangan sahabat.

Ini bukan perkara sepele. Nama dalam tradisi Arab bukan sekadar pembeda identitas. Ia adalah simbol cinta, penghormatan, harapan, dan keterikatan batin. Seseorang memilih nama bagi anaknya dari nama-nama yang ia sukai. Ia tidak menjadikan nama musuhnya sebagai panggilan sayang di rumahnya. Ia tidak mengulang-ulang nama orang yang dibencinya pada keturunannya, kecuali bila nama itu memang hidup di hatinya sebagai nama yang mulia. Karena itu, fakta penamaan ini menjadi bukti yang sangat telak. Jika benar Ali membenci Abu Bakar, Umar, dan Utsman sebagaimana tuduhan Rafidhah, maka mengapa nama-nama itu justru hadir pada anak-anak beliau dan pada keturunannya?

Allah memuji para sahabat Nabi ﷺ secara umum dalam banyak ayat. Di antaranya firman Allah:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)

Ayat ini bukan pujian kecil. Ia adalah tazkiyah rabbaniyyah bagi para sahabat utama. Abu Bakar, Umar, dan Utsman termasuk barisan terdepan dalam ayat tersebut. Maka keyakinan yang membangun agama di atas caci maki kepada mereka sesungguhnya sedang berbenturan langsung dengan nash Al-Qur’an.

Allah juga berfirman tentang para sahabat yang berbaiat di bawah pohon:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ

“Sungguh, Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.”
(QS. Al-Fath: 18)

Dan Allah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama beliau keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.”
(QS. Al-Fath: 29)

Perhatikan kalimat رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ. Allah menggambarkan hubungan para sahabat dengan Nabi ﷺ dan di antara mereka sendiri sebagai hubungan kasih sayang, bukan hubungan dendam abadi seperti yang dipropagandakan oleh Rafidhah.

Adapun secara khusus, Rasulullah ﷺ memerintahkan umat ini untuk berpegang kepada sunnah beliau dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin. Beliau bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي

“Maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk sepeninggalku.”
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Hadits ini sangat penting. Nabi ﷺ bukan hanya memuji mereka, tetapi memerintahkan umat untuk mengikuti jejak mereka. Lalu bagaimana mungkin orang yang diperintahkan Nabi untuk diikuti justru disebut musuh Nabi?

Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda tentang Abu Bakar dan Umar:

اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

“Ikutilah dua orang setelahku: Abu Bakar dan Umar.”
(HR. At-Tirmidzi, Ahmad)

Tentang Utsman, Nabi ﷺ juga memberikan keutamaan yang sangat besar. Di antaranya sabda beliau ketika Utsman mendapat ujian besar:

مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ

“Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.”
(HR. At-Tirmidzi)

Dan Nabi ﷺ menikahkan dua putri beliau dengan Utsman, yaitu Ruqayyah lalu Ummu Kultsum. Gelar Dzun Nurain yang melekat pada Utsman bukan gelar kosong. Itu sendiri sudah menjadi bukti kedekatan luar biasa antara Nabi ﷺ dan Utsman. Mustahil seorang ayah, apalagi Rasulullah ﷺ, menikahkan dua putrinya secara bergantian kepada orang yang ia pandang berkhianat terhadap agama.

Sekarang mari kembali kepada Ali radhiyallahu ‘anhu. Dalam sumber-sumber sejarah Ahlus Sunnah disebutkan bahwa Ali memiliki anak-anak yang bernama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Hal ini disebutkan dalam karya-karya nasab dan tarikh, seperti Tabaqat Ibn Sa’d, Ansab al-Ashraf karya Al-Baladzuri, Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir, dan karya-karya lain yang mencatat keturunan Ali. Bahkan dalam sejumlah riwayat disebutkan pula adanya penamaan serupa pada sebagian keturunan beliau.

Di sinilah akal sehat mulai berbicara. Apakah Ali menamai anak-anaknya dengan nama orang-orang yang ia anggap perampas agama? Apakah Hasan dan Husain serta keturunan Ahlul Bait akan mengabadikan nama-nama itu bila memang yang diwariskan adalah kebencian? Tidak mungkin. Justru fakta ini menunjukkan bahwa nama-nama tersebut dihormati, dicintai, dan dianggap mulia.

Sebagian orang Rafidhah mencoba lari dari fakta ini dengan mengatakan bahwa nama-nama seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah nama umum, sehingga penamaan itu tidak menunjukkan apa-apa. Jawaban atas syubhat ini sederhana. Benar, sebagian nama itu memang dikenal di masyarakat Arab. Tetapi ketika nama-nama tersebut muncul berulang dalam lingkungan keluarga Ali, lalu disejajarkan dengan nama-nama sahabat utama lainnya, dan dibaca bersama keseluruhan hubungan Ali dengan para khalifah, maka sangat jelas bahwa ini bukan kebetulan kosong. Ini adalah bagian dari realitas sejarah yang utuh: tidak ada permusuhan ideologis sebagaimana yang dibayangkan Rafidhah.

Lebih dari itu, Ali sendiri tidak memperlakukan Abu Bakar, Umar, dan Utsman seperti musuh. Beliau hidup bersama mereka, bermusyawarah dengan mereka, membantu urusan kaum muslimin pada masa mereka, bahkan tidak pernah membangun agama kebencian terhadap mereka. Seandainya memang mereka adalah musuh Allah dan Rasul-Nya, tentu Ali adalah orang pertama yang paling berani menyatakannya secara terbuka. Ali bukan orang lemah. Ali adalah singa Allah. Jika perkara ini benar sebagaimana yang diklaim Rafidhah, mustahil Ali akan diam, membiarkan umat tersesat, lalu malah menamai anak-anaknya dengan nama para “musuh” tersebut. Itu tuduhan yang justru merendahkan Ali sendiri.

Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi dalam Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah menegaskan manhaj Ahlus Sunnah dalam masalah sahabat:

وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَلَا نُفْرِطُ فِي حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ، وَلَا نَتَبَرَّأُ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ

“Kami mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ. Kami tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, dan kami juga tidak berlepas diri dari seorang pun di antara mereka.”

Inilah jalan yang lurus. Bukan jalan Rafidhah yang mengaku mencintai Ahlul Bait tetapi dengan cara mencaci sahabat. Ahlus Sunnah mencintai Ali, Fatimah, Hasan, Husain, sekaligus mencintai Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Karena semuanya adalah tokoh-tokoh mulia dalam agama ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkali-kali menjelaskan dalam Minhaj as-Sunnah bahwa kebohongan terbesar Rafidhah adalah membangun pertentangan mutlak antara Ahlul Bait dan para sahabat. Padahal sejarah yang sahih menunjukkan adanya saling menghormati, kerja sama, hubungan pernikahan, dan keterikatan nasab. Maka siapa pun yang ingin adil harus membaca sejarah dengan timbangan ilmu, bukan dengan dendam sektarian.

Bukti penamaan anak ini, bila digabung dengan fakta-fakta lain, menjadi sangat kuat. Nabi ﷺ menikahi Aisyah putri Abu Bakar dan Hafshah putri Umar. Nabi ﷺ menikahkan dua putrinya kepada Utsman. Ali menikahi Fatimah, putri Nabi ﷺ. Semua ini menunjukkan jaringan hubungan iman, keluarga, dan kepercayaan yang sangat erat. Lalu datang Rafidhah berabad-abad kemudian membawa dongeng permusuhan total, seolah mereka lebih tahu isi hati Ali daripada fakta sejarah yang begitu terang. Ini bukan ilmu, tetapi manipulasi.

Maka benarlah bahwa fakta penamaan anak-anak Ali dan keturunannya merupakan salah satu hujjah yang kuat untuk mematahkan keyakinan batil Rafidhah. Sebab nama-nama itu berbicara lebih jujur daripada propaganda. Nama-nama itu menjadi saksi bahwa yang ada bukan permusuhan, tetapi cinta dan kesetiaan. Bukan dendam turun-temurun, tetapi penghormatan yang hidup dalam keluarga Ahlul Bait sendiri.

Karena itu, setiap muslim hendaknya waspada. Cinta kepada Ahlul Bait adalah bagian dari akidah Ahlus Sunnah. Tetapi cinta itu tidak boleh dibajak untuk membenci para sahabat. Siapa yang menjadikan agama sebagai proyek caci maki kepada Abu Bakar, Umar, dan Utsman, maka ia telah menyelisihi Al-Qur’an, Sunnah, dan jalan para ulama Ahlus Sunnah. Adapun Ali dan keturunannya yang mulia, justru jejak mereka sendiri membantah kebatilan itu. Nama-nama yang mereka pilih untuk anak-anak mereka telah menjadi saksi sejarah: yang ada adalah cinta dan kesetiaan, bukan kebencian dan permusuhan.

Wallahu a'lam.
ustadz abul abbas aminullah 

Kisah Unik dalam Mazhab Maliki

Kisah Unik dalam Mazhab Maliki

Ada seorang wanita yang meninggal dunia, sementara janin di dalam perutnya masih bergerak. Lalu kasus ini ditanyakan kepada dua ulama besar Malikiyah : Asyhab dan Ibnu al-Qasim.

Asyhab berfatwa agar perut jenazah tersebut dibelah untuk mengeluarkan janin. Sedangkan Ibnu al-Qasim berfatwa tidak dilakukan pembelahan, yakni janin tersebut dibiarkan terkubur bersama ibunya.

Akhirnya, masyarakat mengamalkan fatwa Asyhab. Janin itu pun berhasil dikeluarkan dalam keadaan hidup. Ia kemudian tumbuh menjadi seorang ulama yang mengajarkan ilmu, dan ia selalu mengikuti pendapat Asyhab serta meninggalkan pendapat Ibnu al-Qasim. 😅

​📚 Al-Fawakih ad-Dawani Syarh Risalah Ibnu Abi Zaid al-Qairawani (1/303)
___

من طرائف المالكية
​ماتت امرأة وجنينها يضطرب في بطنها فسُئل عنها أشهب وابن القاسم؟ فأفتى أشهب بالبقر (بقر البطن واخراج الجنين)، وأفتى ابن القاسم بعدمه "أي دفنه وهو في بطن أمه".. فعملوا بكلام أشهب.. فخرج الجنين حيا وصار عالما يُعلم العلم ويتبع قول أشهب ويدع قول ابن القاسم..

​[الفواكه الدواني شرح رسالة ابن أبي زيد القيرواني 303/1]
Ibn nashrullah

RUMAH TAHFIZH ALQUR’AN “AN-NUUR

*Kajian Rutin RTQ An-Nur Jogja* 

Bersama Ust. Abu Abdillah Purwoko hafidzahullah 

Setiap Sabtu, ( Bahasa Arab )
Ba'da Maghrib - 20.00 WIB
Kitab Mukhtarot Kaidah Nahwu dan Sharaf 

Setiap Selasa, ( Aqidah )
Pukul 20.00 - 21.00 WIB
Kitab Al-Bidayah Fil Aqidah

Setiap Kamis, ( Fiqih )
Pukul 20.00 - 21.00 WIB
Kitab Bidayatul Mutafaqih

Informasi dan Konfirmasi Kehadiran :
 +62821-1629-811
 +62857-4701-4184

💛 *RUMAH TAHFIZH ALQUR’AN “AN-NUUR”* 
 *MASIH MENERIMA SANTRI BARU (MUKIM DAN NONMUKIM)*
*GRATIS/FREE (FULL BEASISWA)* 

*Daftar Santri :* 
Wa.me//+6285747014184

*Lokasi Rumah Tahfidz An-Nuur :* 
Ngadimulyo WB I/159 RT014 RW003 Pakuncen Wirobrajan Yogyakarta
Gmap: 
https://maps.app.goo.gl/pPqqmfKXWgGbsz7Y7

Selasa, 31 Maret 2026

Umar bin al-Khattab, semoga Allah meridainya, berkata:

Umar bin al-Khattab, semoga Allah meridainya, berkata:

Tidak ada kebaikan pada suatu bangsa yang tidak memberi nasihat, dan tidak ada kebaikan pada suatu bangsa yang tidak menyukai nasihat.

Dalam ilmu ushul fikih, menyimpulkan hukum hanya dari makna zahir satu teks adalah pendekatan yang rapuh

Dalam ilmu ushul fikih, menyimpulkan hukum hanya dari makna zahir satu teks adalah pendekatan yang rapuh, karena kebenaran syariat tidak dibangun di atas potongan dalil yang berdiri sendiri, tetapi dari keseluruhan dalil yang saling menjelaskan dan menyeimbangkan. Para ulama menegaskan bahwa setiap lafaz harus diteliti dengan cermat: apakah ada dalil yang mengkhususkan, membatasi, menasakh, atau qarinah yang memalingkannya dari makna literal, agar hasil istinbath terbebas dari cacat dan kesimpulan yang tergesa. Dari sinilah tampak bahwa kedewasaan dalam beragama bukan pada kemampuan mengutip teks, tetapi pada kemampuan merangkai, menimbang, dan memahami hubungan antar dalil secara utuh, karena hukum tidak lahir dari satu potongan kalimat, melainkan dari harmoni seluruh petunjuk yang diturunkan.
Ust abdullah yahya

Perang Jamal memang dapat menjadi pelajaran dalam akidah, tetapi bukan untuk dijadikan bahan menghakimi individu atau membenarkan sikap berlebihan

Perang Jamal memang dapat menjadi pelajaran dalam akidah, tetapi bukan untuk dijadikan bahan menghakimi individu atau membenarkan sikap berlebihan, melainkan sebagai cermin bagaimana para sahabat yang mulia bisa berbeda dalam ijtihad tanpa keluar dari kebenaran dan keimanan. Dari sini tampak bahwa menjaga persatuan umat, menahan lisan, dan berhusnuzan kepada para pendahulu adalah bagian dari prinsip Ahlusunnah. Demikian pula teks-teks salaf tentang shalat bersama pemimpin harus dipahami dalam konteksnya: menjaga keutuhan jamaah dari perpecahan, bukan dijadikan dalil umum tanpa melihat sebab dan tujuannya. Perbedaan di masa kini dalam ranah ijtihad tidak otomatis menjadi penyimpangan akidah, melainkan bagian dari keluasan syariat. Maka pelajaran terbesarnya bukan sekadar mengetahui peristiwa, tetapi belajar bersikap adil, tidak tergesa dalam menilai, dan memahami agama dengan kedalaman ilmu serta amanah, bukan dengan penyederhanaan yang menyesatkan. Wallahua'lam
Ust abdullah yahya

Keluar dari mazhab empat dalam berfatwa memiliki dua keadaan:

Keluar dari mazhab empat dalam berfatwa memiliki dua keadaan:

1. Keadaan pertama: keluar dari mazhab empat menuju pendapat yang tidak pernah dikatakan oleh seorang pun dari para mujtahid. Hal ini tidak diperbolehkan.

2. Keadaan kedua: keluar dari mazhab empat menuju pendapat mujtahid lain.

Para ahli usul berbeda pendapat tentang hukum keadaan ini menjadi dua pendapat:

1. Pendapat pertama: tidak boleh, baik dalam peradilan, fatwa, maupun pengamalan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, bahkan sebagian menukil adanya ijma’.

2. Pendapat kedua: boleh dengan syarat-syarat tertentu, dan ini merupakan pendapat sebagian ahli usul.

Adapun syarat-syaratnya:

1. Mengetahui mazhab yang diikuti.

2. Memastikan kebenaran penukilan pendapat tersebut.

3. Mengetahui batasan-batasan pendapat yang dijadikan fatwa.

4. Tidak melakukan talfiq (menggabungkan pendapat secara tidak sah).

5. Tidak membatalkan putusan hakim yang telah ditetapkan.

📖 Al-Iftā’ bil-Qaul adh-Dha‘īf: Ḍawābiṭuhu – Musawwighātuhu – Maḥādhīruhu (hlm. 77–80), dengan sedikit pengolahan dan ringkasan.
ust abdullah yahya

khutbah nikah atau nasehat pernikahan

Rekan-rekan, apakah anda diminta mengisi khutbah nikah atau nasehat pernikahan? Tolong sampaikan ini kepada pihak lelaki atau hadirin secara umum:

1. Lelaki adalah pemimpin/qawwam bagi istrinya dan itu adalah dengan dua hal: (1) kelebihan dia sebagai lelaki yang memang diberikan banyak hal dibanding wanita semisal akal, fisik, kemampuan ini dan itu, dll. (2) Dengan memberi nafkah kepada istrinya. Wajib bagi suami menafkahi istri. Haram hukum tidak menafkahi istri. Tidak perhatian dengan urusan nafkah adalah kedzaliman yang akan dipertanggungjawabkan di hari kiamat. Tetap wajib menafkahi walaupun istri berpunya dan berpenghasilan. Dengan dua poin tsb, itulah lelaki menjadi qawwam yang tanpa itu rumah tangga akan pincang. 

2. Nasehat utk mempelajari fiqh talak. Fiqh talak simpel. Satu majelis juga selesai. Wajib hukumnya pasutri mempelajari fiqh ini. Bukan dengan tujuan agar berpisah namun agar suami tidak dzalim ketika ucapkan talak. Betapa mudahnya suami menjatuhkan talak bukan pada tempatnya atau mengancam talak dan itu menghancurkan perasaan istri. Betul bhw talak adalah jalan keluar ketika semuanya buntu. Namun eror dalam talak adalah dosa. Salah menerapkan fiqh talak adalah dosa. Karena itu baik suami sebagai pentalak dan istri pihak yang mendapat talak, mesti mempelajari fiqh talak. Tak hanya suami, istri juga mesti mempelajari talak sebab nantinya terkait iddah dan ketentuan wanita ketika menjalani masa iddah tsb.

3. Nasehat agar pasutri melazimi majelis ilmu dan menjadikan majelis ilmu sebagai rutinitas setidaknya sekali atau dua kali sepekan. Dengan majelis ilmu, terhiasilah pasutri dengan iman, pemahaman ttg halal dan haram, juga menjalani kehidupan atas dasar ilmu. Hati keduanya terbimbing oleh wahyu dan itu mampu mewujudkan maslahat dalam rumah tangga dan setidaknya meminimalisir prahara. 

Keduanya semakin dekat dgn Allah yang menjadikan hati keduanya dipenuhi iman. Lantas terbitlah kebahagiaan di beranda rumah. Apalagi seorang suami tak boleh abaikan majelis ilmu syar’i sebab dialah nahkoda. Dengan majelis ilmu, hatinya akan lapang dan itu adalah modal seorang nakhoda menghadapi ombak. Tak mudah ia emosi. Tak mudah ia memukul. Berat utk kasar kepada istrinya. Ia memandang istrinya sbg sosok yang perlu dibimbing. Dengan kelapangan hati, ia tidak lagi kekanak-kekanakan ketika sedang bersiteru dengan pasangannya. Begitu pula ketika ada masalah kehidupan, dengan benteng tauhid ia pelajari di majelis ilmu, ia akan menjauhi godaan kesyirikan yang dinilai mampu “menyelesaikan” masalah yang tengah ia hadapi. 

4. Nasehat bhw seorang suami harus sadar akan kepemimpinan dirinya dalam rumahtangga. Rumah tangga, istri dan anak-anaknya haruslah dia prioritaskan dibanding hal dan pihak lain. Haram hukumnya ia menelantarkan rumah tangga, istri dan anak-anaknya. Tidak perhatian dengan itu semua adalah kedzaliman. Karena yang dituntut untuk menjadi bijak dan dewasa paling utama adalah ia sebagai suami. Ia harus menurunkan ego pribadi. Jangan sampai ia banyak berbuat baik dan berlisan manis di hadapan manusia sementara ia berlisan kasar kepada istrinya. Jangan sampai ia berbuat baik kepada seluruh manusia sementara ia bengis dan kejam kepada istrinya. Bahkan ia berdosa dengan memberi banyak uang kepada ortunya namun ia telantarkan istrinya. Berbuat baik kepada ortu adalah kewajiban namun urusan nafkah haruslah mendahulukan istri jika memang sedang tidak cukup. Syukur-syukur berlebih yang dengan itu ia menafkahi istri dan orang tua sendiri sekaligus. 

5. dll. Wallahualam.
Ust yani fahriansyah

Hukum Memasukkan Benda Tajam (Tusuk Besi) ke Dalam Tubuh

Hukum Memasukkan Benda Tajam (Tusuk Besi) ke Dalam Tubuh

​Al-Allamah Ibnu Abidin Al-Hanafi rahimahullah mengatakan,

​Al-Allamah Ibnu Hajar pernah berfatwa mengenai orang-orang yang melakukan atraksi ekstrem (seperti anggota tarekat tertentu yang menyimpang), yang melakukan hal-hal aneh seperti seolah-olah memenggal kepala seseorang lalu menyambungnya kembali, atau mengubah butiran debu menjadi uang dirham, dan sejenisnya.

​Beliau menyatakan: 
Perbuatan mereka itu dikategorikan sebagai sihir. Jika pelakunya bukan penyihir (namun melakukan tipu daya serupa), tetap saja hal itu tidak diperbolehkan, dan tidak boleh ada seorang pun yang mendukung atau mendatangi mereka.

​Kemudian, dinukil pula dari kitab Al-Mudawwanah (salah satu rujukan utama mazhab Maliki): 
Bahwasanya orang yang (beratraksi) memotong tangan seseorang atau menusukkan pisau ke dalam perutnya; jika perbuatan itu terbukti sebagai sihir, maka pelakunya dihukum mati. Namun jika bukan sihir, maka ia harus dijatuhi hukuman (ta'zir).

📚 Radd al-Muhtar 'ala al-Durr al-Mukhtar

قال ابن حزم في "الرسائل"

معها ثم شنت. رواه أحمد في "المسند" (٤٣/٤٥) وهو في "السنن الكبرى للنسائي (٤٣٦/٤) بقصته

ومعناه مختصراً.

القاعدة الثالثة : قصد هداية المخالف ونشر العلم

فإن أعظم ما يتحمله المسلم هو بيان الدين، وتوضيح أحكامه ، لاسيما عند دروس العلم وكثرة الشبهات .

وفي مواضع الاختلاف يكون نشر العلم، وبيان الأحكام من أكد الواجبات ، وأعظم المهمات ) فيها يهدى الضال، وتزول الشبهة .

قال ابن حزم في "الرسائل" (١٠١/٤) : ( .. والحظ لمن أثر العلم وعرف فضله : أن يستعمله جهده ، ويقرته بقدر طاقته ، ويحققه ما أمكنه ، بل لو أمكنه أن يهتف به على قوارع طرق المارة ، ويدعو إليه في شوارع السائلة ، وينادي عليه في مجامع السيارة ، بل لو تيسر له أن يهب المال لطلابه ، ويجري الأجور المقتبسيه ، ويعظم الأجمال للباحثين عنه، ويستي مراتب أهله صابراً في ذلك على المشقة والأذى - لكان ذلك حظاً جزيلاً وعملاً جيداً وسعداً كريماً وإحياء للعلم، وإلا فقد قرس وطمس ، ولم يبق منه إلا آثار لطيفة ، وأعلام دائرة ) أهـ .

ومن المعلوم أن البيان للأمة بنشر العلم، ونقض الشبهات والمخالفات لا يتوقف على رضا أحد أو سخطه ؛ فإن الله تعالى ما أنزل الكتب وبعث الرسل، ولا حمل العدول هذا العلم إلا للقيام بواجب نشره ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين.

فيجمع الموفق بين بيان العلم ورد الشبه وبين إعطاء الحقوق للمخالفين والعدل معهم ، يقول ابن تيمية في مجموع الفتاوى" (٥٠٨/٧) عن علاقة الإمام أحمد مع المخالفين في بدعة مغلظة: ... فيجمع بين طاعة الله ورسوله في إظهار السنة والدين وإنكار بدع الجهمية الملحدين ، وبين رعاية حقوق

المؤمنين من الأئمة والأمة ؛ وإن كانوا جهالاً مبتدعين ، وظلمة فاسقين) أم.

وقال في اقتضاء الصراط المستقيم (۳۲۷/۱) عن السياحة البدعية : (وأما السياحة التي هي الخروج في البرية لغير مقصد معين فليست من عمل هذه الأمة ولهذا قال الإمام أحمد: ليست السياحة من الإسلام في شيء، ولا من فعل النبيين ولا الصالحين، مع أن جماعة من إخواننا قد ساحوا السياحة المنهي عنها متأولين في ذلك، أو غير عالمين بالنهي عنه، وهي من الرهبانية المبتدعة التي قبل فيها : «لا رهبانية في الإسلام ) أه