Sabtu, 04 April 2026

Penakluk Mongol yang Tunduk di Hadapan An-Nawawi

Penakluk Mongol yang Tunduk di Hadapan An-Nawawi

​Al-Malik az-Zahir Ruknuddin Baibars al-Bunduqdari, sang pemenang Pertempuran Ain Jalut yang berhasil memukul mundur tentara Mongol, ternyata menaruh rasa segan dan takut yang luar biasa terhadap Imam an-Nawawi.

​As-Sakhawi meriwayatkan bahwa Sultan Baibars pernah berkata:

أنا أفزع منه
​"Aku merasa gentar di hadapannya." 
(Tarjamah Syaikhul Islam an-Nawawi, hlm. 45)

​Akar Konflik: Keadilan di Atas Kepentingan Militer

​Talib Hashmi merangkum penyebab ketegangan di antara keduanya sebagai berikut:

​Suatu ketika, Sultan Baibars tiba di Damaskus dengan niat mengumpulkan dana dari rakyat Syam untuk membiayai tentaranya yang sedang berjihad. Sejumlah ulama di Syam mengeluarkan fatwa yang mendukung kebijakan tersebut. Namun, Imam an-Nawawi dengan tegas menentangnya.

​Sultan yang merasa tidak senang kemudian memerintahkan sang Imam untuk meninggalkan kota. Menanggapi itu, Imam an-Nawawi pun memilih pulang ke desa asalnya, Nawa.

​Setelah kepergiannya, para ulama Syam mendatangi Baibars dan memprotes tindakan tersebut. Mereka berkata, "Dia adalah imam kami. Tanpanya, Damaskus terasa gelap." Mendengar hal itu, Sultan mencabut perintah pengasingannya dan meminta mereka membawa kembali Imam an-Nawawi dengan penuh penghormatan. Akan tetapi, sang Imam menolak dan bersumpah, "Aku tidak akan kembali ke Damaskus selama Baibars masih hidup." Tak lama berselang, Sultan Baibars pun wafat sebelum sempat meminta maaf secara langsung.

​Argumen Sang Imam

​Dalam riwayat lain disebutkan bahwa penolakan ini dipicu oleh kebijakan Sultan yang mengenakan pajak tambahan kepada penduduk Syam sekaligus memotong tunjangan para pengajar (mudarrisin).

​Imam an-Nawawi menegur Sultan dengan kalimat yang sangat tajam:

​"Dahulu Anda adalah budak milik Amir al-Bunduqdar. Anda bahkan tidak memiliki sehelai jubah pun. Sekarang, Allah telah mengaruniakan Anda kekuasaan dan negeri, serta dikelilingi pelayan laki-laki dan perempuan yang memiliki harta melimpah. Bagaimana mungkin saya mengeluarkan fatwa untuk mengambil harta rakyat kecil, sementara Anda sendiri belum mengambil harta yang ada pada para pelayan Anda?"

​(Disarikan dari Malik Zahir Baibars karya Talib Hashmi, hlm. 293)

Diterjemahkan dari tulisan
Asim Ul Haq
Ibn nashrullah