Sabtu, 17 Januari 2026

naskah klasik (manuskrip) yang membahas tentang sejarah perkembangan pemikiran teologi Islam, khususnya mengenai transisi Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari.

Teks dalam gambar ini merupakan naskah klasik (manuskrip) yang membahas tentang sejarah perkembangan pemikiran teologi Islam, khususnya mengenai transisi Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari.
Berikut adalah transkripsi teks Arab dan terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia:
Transkripsi Teks Arab
> "...وأما الشيخ أبو الحسن علي بن إسماعيل بن أبي بشر الأشعري البصري، فإنه تنقل في المقالات من مقالة ابن الراوندي وكان يرمى بالزندقة، إلى مقالة الشيخ أبي علي محمد بن عبد الوهاب الجبائي وكان من أكبر شيوخ المعتزلة، فأقام معه على المقالة سنين، ثم رجع عنها للأمر حدث على المعتزلة من شدة الطلب أو لغير ذلك، إلى مقالة أبي محمد عبد الله ابن سعيد بن كلاب، فأقام على هذه المقالة سنين، وانتشرت عنه بواسطة تلميذه الشيخ أبي الحسن الباهلي، وعنه أخذها القاضي أبو بكر الباقلاني والشيخ أبو بكر بن فورك، وعنهما انتشرت إلى جماعة من أصحاب الشافعي وإلى جماعة من أصحاب مالك وإلى جماعة من أصحاب أبي حنيفة، وسلم منها جمهور أصحاب أحمد والأئمة الكبار من أصحاب مالك والشافعي وأبي حنيفة الذين بقوا على ما هم عليه وأهل الحديث. وكل من نظر في سير السلف من أصحاب الأئمة وغالب عموم الخلق ممن ينظر في أصولهم العقلية فإنه سلم منها أيضًا، ثم رجع عن المقالة الأولى لمقالة المعتزلة."
Terjemahan Bahasa Indonesia
"Adapun Syekh Abu al-Hasan Ali bin Isma'il bin Abi Bisyr al-Asy'ari al-Bashri, sesungguhnya ia berpindah-pindah pemikiran; mulai dari pemikiran Ibnu al-Rawandi—yang dituduh zindik—kemudian berpindah ke pemikiran Syekh Abu Ali Muhammad bin Abdil Wahhab al-Jubba'i, salah seorang tokoh terbesar kaum Mu'tazilah. Ia menetap pada pemikiran tersebut selama bertahun-tahun.
Kemudian ia meninggalkannya karena suatu perkara yang menimpa kaum Mu'tazilah akibat tekanan pencarian (argumen) yang kuat atau alasan lainnya, lalu berpindah ke pemikiran Abu Muhammad Abdullah bin Sa'id bin Kullab. Ia menetap pada pemikiran ini selama bertahun-tahun, dan pemikiran tersebut tersebar darinya melalui perantaraan muridnya, Syekh Abu al-Hasan al-Bahili.
Dari Al-Bahili, pemikiran tersebut diambil oleh Al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani dan Syekh Abu Bakar bin Furak. Dari keduanya, pemikiran itu tersebar ke sekelompok pengikut madzhab Syafi'i, sekelompok pengikut Maliki, dan sekelompok pengikut Abu Hanifah. Namun, mayoritas pengikut Ahmad (Imam Ahmad bin Hanbal) selamat (tidak mengikuti) darinya, begitu pula para imam besar dari pengikut Malik, Syafi'i, dan Abu Hanifah yang tetap teguh pada prinsip awal mereka serta para Ahli Hadits.
Setiap orang yang menelaah biografi para Salaf dari kalangan pengikut para Imam, serta mayoritas masyarakat umum yang memperhatikan dasar-dasar akal mereka, niscaya akan selamat juga darinya. Kemudian ia pun kembali meninggalkan pemikiran pertama (Mu'tazilah) tersebut."
Catatan Konteks:
Teks ini tampaknya ditulis dari perspektif yang kritis terhadap perkembangan teologi Asy'ariyah (seringkali dari sudut pandang Hanbali atau Salafi), karena menekankan bahwa mayoritas pengikut Imam Ahmad dan para imam besar lainnya tetap pada jalan "Ahli Hadits" dan tidak mengikuti perkembangan teologi sistematis (Kalam) tersebut.