Kamis, 02 April 2026

Syaikh al-Albani :tentang Baiat dan Keluar dari Ketaatan (Khuruj)

 rekaman suara dari ulama ahli hadis ternama, **Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani** *rahimahullah*. 
##  Syaikh al-Albani :tentang Baiat dan Keluar dari Ketaatan (Khuruj)
**Penanya:**
"Pertama wahai Syaikh, mengenai masalah baiat. Banyak dari guru-guru kami berpendapat akan wajibnya baiat kepada penguasa yang ada di negeri-negeri kami. Namun, sebagian ikhwan mengadopsi pendapat ketidaksahan baiat tersebut. Tentu di balik pendapat ketidaksahan baiat ini, ada seruan untuk keluar dari ketaatan (*khuruj*) terhadap penguasa tersebut atau seruan untuk mengafirkan mereka. Mereka menganggap penguasa ini tidak layak dibaiat karena syarat-syaratnya tidak terpenuhi.
Sebagian guru kami menyimpulkan bahwa jika Anda tidak berbaiat kepada penguasa ini, berarti Anda setuju untuk memberontak (*khuruj*), sehingga orang tersebut dicap sebagai 'Khawarij'. Hal ini sangat tersebar di tempat kami. Apakah baiat kepada penguasa saat ini yang syarat-syaratnya belum terpenuhi itu jenisnya sama dengan baiat kepada jamaah-jamaah Islam yang ada di lapangan?"
**Syaikh al-Albani Menjawab:**
"Pendapat saya adalah: **Tidak ada baiat bagi penguasa mana pun kecuali jika ia dibaiat oleh jamaah kaum muslimin di seluruh dunia Islam**, bukan hanya di satu negara atau satu wilayah saja. Inilah baiat untuk Khalifah yang dipilih oleh *Ahlul 'Ilmi wal Fadhl* (orang-orang yang berilmu dan utama), kesalehan, dan ketakwaan. Bukan dipilih oleh rakyat jelata yang di dalamnya tercampur antara orang baik dan buruk, sebagaimana sistem yang sekarang disebut parlemen atau Majelis Ummah. Majelis Ummah seharusnya tidak diwakili oleh orang-orang bodoh dan fasik, melainkan oleh ahli ilmu dan kesalehan.
Majelis semacam ini, sangat disayangkan, tidak ada wujudnya saat ini di dunia Islam. **Oleh karena itu, tidak ada baiat.**
Namun, perlu ditambahkan pada peniadaan (baiat) ini: Bahwa konsekuensi yang mereka tetapkan—bahwa tidak adanya baiat berarti membolehkan keluar dari ketaatan (*khuruj*)—adalah kesimpulan yang salah. Kami katakan di sini: **Masalah keluar dari ketaatan (*khuruj*) kepada penguasa tidak ada kaitannya dan tidak terikat dengan ada atau tidak adanya baiat.**
Mengapa? Karena tidak ada keterkaitan antara ketiadaan baiat dengan pembolehan pemberontakan. Begini penjelasannya:
 1. Seseorang bisa saja sudah dibaiat dengan baiat yang sah secara syar'i, namun tetap boleh (bahkan wajib) dikeluarin dari ketaatannya. Kapan? Yaitu ketika kita melihat kekafiran yang nyata (*kufran bawahan*) sebagaimana disebutkan secara tegas dalam hadis. Jadi, adanya baiat tidak lantas menghalangi *khuruj* (jika syarat kafir nyata terpenuhi).
 2. Begitu juga sebaliknya, tidak adanya baiat tidak berarti boleh melakukan pemberontakan. Tidak ada hubungan antara keduanya, baik secara positif maupun negatif.
Saya katakan sekarang: Di dunia Islam saat ini, sepanjang pengetahuan saya, tidak ada satu pun pemerintahan Arab yang dibaiat dengan baiat syar'i (kecuali di tempat kalian menurut sebagian ulama). Lalu, apakah boleh bagi rakyat di negara-negara Arab tersebut untuk memberontak kepada penguasa mereka dengan alasan mereka belum membaiatnya?
Jika mereka (orang-orang yang mewajibkan baiat) berkata bahwa 'tidak berbaiat berarti membolehkan pemberontakan', maka secara logika mereka harus membolehkan rakyat di seluruh negeri Arab untuk memberontak karena tidak adanya baiat syar'i tersebut. Dan saya yakin, mereka sendiri pun tidak akan membolehkan pemberontakan di negara-negara Arab lainnya.
Keyakinan saya adalah: **Masalah memberontak atau tidak, bukan didasari oleh ada atau tidak adanya baiat.** Seandainya ada seorang Khalifah yang dibaiat secara sah, namun kemudian ia menunjukkan kekafiran yang nyata, maka tidak ada ulama yang mengatakan tidak boleh keluar darinya. Sebaliknya, jika ada penguasa muslim yang menjalankan sebagian isi Al-Qur'an dan meninggalkan sebagian lainnya—bukan dalam konteks mengafirkan ayat tersebut, tapi sekadar tidak mengamalkannya—meskipun ia tidak dibaiat secara syar'i, hal itu tidak berarti boleh memberontak kepadanya.
Sebab, keluar dari ketaatan kepada penguasa—meskipun mereka itu pemberontak (*bughat*) yang merebut kekuasaan dari Khalifah sah dengan pedang dan senjata lalu mereka berkuasa di tengah manusia—**maka tetap tidak boleh memberontak kepada penguasa (yang sudah mapan) tersebut demi menjaga darah kaum muslimin.**
Jadi, mengaitkan kewajiban baiat dengan 'jika tidak baiat berarti boleh memberontak' adalah logika yang tidak nyambung (*la talazuma*). Saya katakan dengan sangat jelas: Selama para ulama belum berkumpul di negeri-negeri Islam untuk membaiat seseorang yang berhak, maka tidak ada baiat (syar'i universal).
Meskipun demikian, saya tegaskan: **Tidak boleh keluar dari ketaatan (memberontak) kepada para penguasa ini.** Karena dampaknya adalah apa yang kita lihat sekarang. Di Palestina, mereka dikuasai oleh Yahudi. Apakah ada yang lebih buruk dari Yahudi? Meskipun begitu, kami katakan (jangan gegabah), jangan sampai darah muslim tumpah sia-sia karena dorongan orang-orang yang lalai, atau saya sebut orang-orang bodoh. Mereka mendorong pemuda kita berjuang dengan batu dan sebagainya (tanpa persiapan), jika situasi ini terus berlanjut, rakyat Palestina akan habis dan negara Palestina akan menjadi santapan empuk bagi Yahudi. Ini bertolak belakang dengan keinginan orang-orang yang hanya bisa menyemangati tapi tidak membantu dengan perbaikan, personel, maupun harta.
Maka, wahai saudaraku, tidak boleh kita menghubungkan antara baiat dengan pemberontakan.
 * Bisa jadi baiatnya sah, tapi wajib keluar darinya jika ditemukan sebab syar'i (kekafiran nyata).
 * Bisa jadi tidak ada baiat, tapi tetap tidak boleh keluar darinya karena tidak ditemukan sebab syar'i.
Sebab syar'i itu adalah kekafiran yang nyata (*al-kufru al-bawah*). Bahkan saya katakan: Seandainya pun ditemukan kekafiran yang nyata (seperti contoh di Aljazair baru-baru ini), apakah boleh memberontak jika belum dipersiapkan kekuatannya (*i'dad*)? Jawabannya: **Tidak boleh.** Ini adalah perkara yang disepakati.
Jadi, argumen mereka itu tidak ilmiah. Saya sampaikan ini dengan jujur, semoga saya telah menjawab pertanyaanmu. Jazakallahu khair."
**Ringkasan Inti:**
 1. **Baiat Syar'i:** Saat ini tidak ada sistem kekhalifahan tunggal yang dibaiat oleh seluruh ulama dunia Islam, sehingga secara teknis "Baiat Kubra" itu tidak ada.
 2. **Larangan Memberontak:** Meski baiat syar'i tidak ada, bukan berarti rakyat boleh memberontak (*khuruj*). Menjaga keamanan dan darah kaum muslimin jauh lebih utama.
 3. **Syarat Khuruj:** Pemberontakan hanya dibahasakan dalam agama jika penguasa melakukan kekafiran yang nyata, itu pun harus dengan syarat memiliki kemampuan fisik dan persiapan yang matang agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

الاول يا شيخ في قضيه البيعه يعني كثير من مشايخنا يرى وجوب
0.11 للحاكم الموجود في بلادنا وبعض الاخوان تبنى راي عدم حقيه
0.20 للبيعه طبعا ما وراء هذا عدم احقيته للبيعه يعني وراها مثلا الدعوه للخروج على
0.29 الحاكم هذا او الدعوه الى تكفيره لكن هذا الحاكم ليس اهل للبيعه لان ما توفرت فيه
0.37 الشروط بعض مشايخنا يرتب على عدم بيعتك لهذا الحاكم انك ترى
0.46 الخروج عليه ومن ثم يطلق على هذا الشخص انه خارجي وهذا منتجر كثير جدا جدا
0.56 عندنا فهل بيعت الحكام الموجودين الان الذين لم تتوفر فيهم الشروط
1.03 ا لم تتوفر الشروط لبيعته من جنس البيعه للجماعات الاسلاميه الموجوده في
1.11 الساحه انا رايي ليس هناك
1.21 بيعه لاي حاكم الا اذا بيع من جماعه المسلمين
1.31 في العالم الاسلامي وليس في بلد
1.37 واحد او في اقليم واحد هذه هي البيعه للخليفه
1.46 الذي يختار من قبل اهل العلم والفضل والصلاه
1.53 والتقوى وليس من الله الحاد م الله الناس الذين فيهم
1.53 والتقوى وليس من عامه الناس الذين فيهم الص
2.01 والطالح كما هو الان طريق ما يسمون ببرلمان
2.07 او فسروا هذه الكلمه الاجنبيه الى مجلس الامه فمجلس
2.15 الامه لا يمثله الرعاء والجهله
2.20 والفسق وانما يمثله اهل العلم والفضل والصلاح
2.28 ومثل هذا المج مع الاسف الشديد لا وجود له اليوم في العالم
2.35 الاسلامي ولذلك فلا بيعه
2.42 ولكن لابد من اضافه الى هذا النفي ان
2.42 ولكن لابد من اضافه الى هذا النفي ان
المحظور الذي
2.51 رتبو او الالزام الذي الجموهريه
3.00 عدم البيعه أن معنى ذلك انه يجيز
3.06 الخروج على هذا او ذاك الحاكم الذي لم
3.16 يبايع فنحن نقولها هنا الخروج على
3.23 الحاكم ليس منوطا ولا مربوطا
3.32 بالبيعه او بعدمها ذلك
3.40 لانه لا تلازم بين السلب والايجاب
3.47 احد يكون رجل مبايع بيعه
3.47 ا قد يكون رجل مبايع بيعه
3.56 شرعيه ومع ذلك يجوز الخروج عليه
4.02 بويع بيعه شرعيه مع ذلك يجوز الخروج عليه متى
4.10 حينما نرى كفرا بواحا كما جاء في الحديث صراحه
4.15 اذا لا يلزم من البيعه عدم الخروج كذلك على العكس
4.22 تماما لا يلزم من عدم البيعه جواز الخروج فلا ارتباط بين الامرين سلبا او
4.32 ايجابا فانا اقول الآن ليس هناك في العالم
لا توجد بيعة لحكام هذا الزمان ولا يلزم من ذلك. ز الخروج عليهم
مز موجد بيعة لحكام هذا الزموجد بيعة لحكام هذا الزموجد بيعة حكام هذا الزموجد بيعة لحكام هذا الزموجد بيعة لحكام هذا الله زم من ذلك جواز الخروج م من ذلك جواز الخروج ترم من ذلك جواز الخروج أم من ذلك جواز الخروج م من ذلك جواز الخروج
4.32 ايجابا فانا اقول الان ليس هناك في العالم الاسلامي فيما
4.42 اعلم حكومه من الحكومات العربيه بيعت بیعه
4.50 شرعيه الا عندكم فيما يقول بعض أهل العلم كما
4.57 تنقل فهل يجوز على هذه الشعوب الخروج على هؤلاء
5.05 الحكام بحجه انهم لم يبايعوا أولئك الذين
5.13 يستلزم وجوب البيعه لانهم يقولون اذا لم يبايع معنى
5.20 ذلك انه يجيز الخروج اذا معنى كلامهم انه يجوز على هؤلاء
5.28 الشعوب الذي يعيشون في بلاد العربيه وفي
5.35 بحكومات لم تبايع الشعوب اذا يجوز الخروج على هذه الحكومات
5.43 واعتقد ان نفس اولئك الذين استلزم من عدم البيعه الخروج لا يجيزون
5.52 الخروج في البلاد العربيه الاخرى وانا هذا اعتقادي
6.01 الخروج وعدمه ليس منوط بالبيعه سلبا او
6.01 الخروج وعدمه ليس منوطا بالبيعه سلبا او ایجابا أي لا يعني انه
6.11 اذا وجد خليفه نقول بويع بيعا مبايعه شرعيه
6.19 لكنه اظهر الكفر الصريح انه لا يجوز الخروج عليه هذا ما يقول عالم كذلك العكس
6.27 تماما اذا كان هناك حاكم مسلم يحكم ببعض الكتاب ولا يحكم بالبعض الآخر لا اقول
6.36 يحكم ببعض الكتاب ويكفر بالبعض لا يحكم ببعض الكتاب ولا يحكم بالبعض الآخر فهو لم
6.46 يبايع وهذا لا يعني انه يجوز الخروج لان
6.36 يحكم ببعض الكتاب ويكفر بالبعض لا يحكم ببعض الكتاب ولا يحكم بالبعض الآخر فهو لم
6.46 يبايع وهذا لا يعني انه يجوز الخروج لان الخروج على
6.54 الحكام مهما كان شانهم لنفترض انهم
7.01 بغاه وخرجوا على الخليفه الشرعي وبالقوه بالسيف بالبارود
7.10 بالسلاح وضع يده على الحكم وحكم بين الناس فلا يجوز الخروج على هذا
7.18 الباغي كل ذلك للمحافظه على دماء المسلمين اذا تعليل وجوب البيعه بانه اذا
7.18 الباغي كل ذلك للمحافظه على دماء المسلمين اذا تعليل وجوب البيعه بانه اذا
7.29 لم يب يبايع معنى ذلك انه يجيد الخروج لا تلازم انا اقول الان بكل صراحه ما لم
7.38 يجتمع علماء المسلمين في البلاد الاسلاميه لمبايعه انسان يستحق البيعه فلا بيعه مع
7.49 ذلك مع ذلك اقول لا يجوز الخروج على هؤلاء الحكام لان من وراء ذلك ما نراه الان في
7.59 فلسطين فلسطين يحكمون من اليهود وهل اخبث من اليهود مع ذلك نقول تذهب دماء المسلمين
8.09 هكذا هدرا بتشجيع اهل الغفله وقد اقول
8.09 هكذا هدرا بتشجيع اهل الغفله وقد اقول احيانا اهل الجهل هدون
8.18 شبابنا ودون المجاهدين بالحجاره والى اخره واذا استمر الوضع على هذه الطريقه سيفنا الشعب
8.27 الفلسطيني وتبقى الدوله الفلسطينيه هي لليهود لقمه سائغه خلاف ما
8.36 يريد هؤلاء الناس الذين يشجعون ثم لا يمدون لا
8.43 بالصلاح ولا بالرجال ولا بالاموال ولا الى اخره
8.49 فاذا لا يجوز يا اخي أن نربط بين البيعه
8.49 فاذا لا يجوز يا اخي ان نربط بين البيعه وبين
8.55 الخروج قد تكون البيعه شرعيه ويجب الخروج حينما يوجد ايش سببه
9.02 الشرعي وقد لا تكون بيعه ولا يجوز الخروج لانه لم يوجد السبب
9.10 الشرعي السبب الشرعي هو الكفر البواححتى انا اقول
9.16 هب انه وجد الكفر البواهر مثلا ثم الجزائر اخيرا فهل يجوز
9.26 الخروج وما اعدوا له عدته هو الجواب لا
9.02 الشرعي وقد لا تكون بيعه ولا يجوز الخروج لانه لم يوجد السبب
9.10 الشرعي السبب الشرعي هو الكفر البواححتى انا اقول
9.16 هب انه وجد الكفر البواهر مثلا ثم الجزائر اخيرا فهل يجوز
9.26 الخروج وما اعدوا له عدته هو الجواب لا هذا امر متفق عليه اذا ايش معنى هذا
9.35 الكلام هذا كلام غير علمي انا اقول بصراحه لعلي اجبتك عن سؤالك وجزاك الله خير وص
9.43 سجل صوتك بالموافقه نعم
https://youtu.be/xbmjk84dLIM?si=HlZAEEZVzNejlCW5
Syaikh albani