Menimbang Akal dalam Timbangan Sahabat
Pernahkah terbersit di benak kita, sejauh mana logika boleh mencampuri urusan agama?
Para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum punya sikap yang sangat tegas soal ini. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu misalnya. Beliau pernah berujar dengan penuh ketakutan bahwa ia tak rela bumi memikulnya jika ia sampai nekat menafsirkan ayat Allah hanya bermodalkan logika pribadi.
Setali tiga uang, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu juga dikenal sangat keras terhadap mereka yang menjadikan rasio sebagai jalan pintas. Beliau bahkan memberi label cukup telak bagi golongan ini: "musuh-musuh Sunnah".
Lantas, apakah ini artinya Islam anti-logika? Tentu tidak.
Penulis Al-Madkhal al-Mufashshal ilal Fiqhil Hanafi menjelaskan bahwa yang dikritik para sahabat bukanlah akal itu sendiri, melainkan "logika liar". Yaitu akal yang berjalan tanpa sandaran nash (dalil), atau digunakan oleh mereka yang malas menimba ilmu tapi ingin cepat-cepat berfatwa.
Membedah Dua Sisi Akal: Antara Racun dan Obat
Penggunaan akal (ar-ra’yu) bisa dipetakan ke dalam dua koridor besar:
1. Logika yang "Kebablasan" (Madzmum)
Bukannya jadi alat bantu, logika jenis ini malah jadi benalu dalam beragama. Cirinya:
● Asal Bunyi : Nekat bicara hukum agama tanpa modal pondasi ilmu yang mumpuni.
● Jalan Pintas Si Pemalas : Menjadikan rasio sebagai "pelarian" karena enggan menggali kedalaman Al-Qur'an dan Hadis.
● Menabrak Pakem : Memaksakan logika pada ranah ibadah yang sudah paten (tawqifi), padahal akal manusia punya batas privasi di sana.
● Tunggangan Nafsu : Bukannya dibimbing ilmu, akal justru disetir oleh keinginan pribadi agar agama tampak "cocok" dengan seleranya.
2. Logika yang "Sehat" (Mamduh)
Inilah fungsi akal yang dirawat oleh para ulama; akal yang tajam namun tetap tahu tempatnya bersimpuh:
● Pengungkap Hikmah : Berperan penting dalam membedah maksud dan tujuan di balik setiap syariat.
● Tertib dan Sistematis : Bekerja dalam koridor bahasa Arab yang benar dan kaidah hukum yang baku.
● Analogi yang Bertuan : Menggunakan analogi (qiyas) yang akurat karena punya cantolan dalil yang jelas, bukan sekadar "cocoklogi".
Pelajaran Penting dari Mengusap Sepatu (Khuff)
Ada satu analogi cerdas dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang merangkum masalah ini dengan sangat apik:
"Seandainya agama itu hanya mengikuti logika, tentu bagian bawah sepatu lebih pantas diusap (saat berwudu). Tapi aku melihat Rasulullah ﷺ justru mengusap bagian atasnya."
Pesannya sederhana tapi dalam: Akal itu punya batas.
Ada wilayah dalam agama yang sifatnya ta’abbudi (ritual murni) yang harus kita terima apa adanya. Di sini, akal bukan pemimpin, melainkan pengikut. Namun di luar wilayah itu, akal justru sangat berperan, selama ia tunduk pada wahyu dan tidak mencoba "menghakimi" ketetapan Allah.
Kesimpulannya,
Sebenarnya, tidak ada pertentangan antara "kerasnya" pernyataan para sahabat dengan luasnya cakrawala ijtihad mereka. Masalahnya bukan pada akalnya, tapi pada bagaimana kita menempatkannya.
Akal itu seperti lampu: ia menerangi jalan agar kita bisa melihat dengan jelas. Namun, jika lampu itu dipaksakan menjadi "penentu arah" sambil mengabaikan peta, ia justru bisa membuat kita buta terhadap rambu-rambu yang sudah dipasang tegas oleh syariat.
Allahu a'lam
Disarikan dari
📚 Al-Madkhal al-Mufashshal ilal Fiqhil Hanafi
✍️ Reza Ibn Nashrullah