Jumat, 03 April 2026

Bid'ah Menguji Manusia Berdasarkan Tokoh

 **Syekh Abdul Muhsin al-Abbad** yang membahas tentang fenomena menguji orang lain berdasarkan tokoh tertentu. 
### **Judul Utama: Dorongan untuk Mengikuti Sunnah, Peringatan Terhadap Bid'ah, dan Penjelasan Bahayanya**
**Sub-judul: Bid'ah Menguji Manusia Berdasarkan Tokoh (Imtihanun Nas bil Asykhash)**
"Termasuk bid'ah mungkar yang terjadi di zaman ini adalah perbuatan sebagian Ahlus Sunnah yang menguji sebagian lainnya dengan tokoh-tokoh tertentu. Baik motif pengujian tersebut adalah kebencian terhadap orang yang dijadikan bahan ujian, atau motifnya adalah pujian yang berlebihan kepada orang lainnya.
Jika hasil pengujian tersebut sesuai dengan keinginan si penguji, maka orang yang diuji akan mendapatkan sambutan, pujian, dan sanjungan. Namun jika tidak, maka bagiannya adalah celaan (tahjir), dianggap ahli bid'ah (tabdi'), boikot (hajr), dan peringatan (tahdzir).
Berikut ini adalah nukilan dari **Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah**—semoga Allah merahmatinya—di awal dan akhir tulisannya mengenai larangan menguji orang dengan tokoh-tokoh tertentu karena kebencian kepada mereka, atau menguji dengan tokoh lain karena pujian berlebih kepada mereka. Beliau berkata dalam *Majmu' al-Fatawa* (3/413-414) saat membahas tentang Yazid bin Muawiyah:
> 'Dan yang benar adalah apa yang dipegang oleh para Imam: Bahwasanya dia (Yazid) tidak dikhususkan untuk dicintai dan tidak pula dilaknat. Namun meskipun demikian, jika dia adalah seorang fasik atau zalim, maka Allah mengampuni orang fasik dan zalim, terlebih jika dia memiliki kebaikan-kebaikan yang besar. Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Pasukan pertama yang memerangi Konstantinopel diampuni dosanya." Dan pasukan pertama yang memeranginya dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah, dan bersamanya ada Abu Ayub al-Anshari...'
Maka kewajibannya adalah bersikap pertengahan dalam hal tersebut, dan berpaling dari menyebut-nyebut Yazid bin Muawiyah serta menjadikannya bahan untuk menguji kaum muslimin; karena sesungguhnya ini termasuk **bid'ah yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama'ah**.'
Beliau juga berkata (3/415):
> 'Demikian pula memecah belah umat dan menguji mereka dengan hal-hal yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ.'
Dan beliau berkata (20/164):
> 'Tidak boleh bagi siapapun untuk mengangkat seseorang bagi umat, lalu mengajak orang lain mengikuti jalannya, serta membangun wala' (loyalitas) dan bara' (permusuhan) di atasnya kecuali kepada Nabi ﷺ. Tidak boleh pula mengangkat perkataan bagi mereka selain firman Allah dan sabda Rasul-Nya serta apa yang telah disepakati umat, lalu membangun loyalitas dan permusuhan di atasnya. Bahkan ini adalah perbuatan ahli bid'ah yang mengangkat seorang tokoh atau suatu perkataan lalu memecah belah umat dengannya, membangun loyalitas atau permusuhan berdasarkan tokoh atau ucapan tersebut.'"
 Sampul buku "Al-Hats 'ala Ittiba'is Sunnah wa al-Tahdzir minal Bida'".
 Foto Syekh Abdul Muhsin al-Abbad.

Dorongan untuk Mengikuti Sunnah, Peringatan terhadap Bid'ah, dan Penjelasan Bahayanya
Bid'ah Menguji Manusia Berdasarkan Tokoh (Imtihanun Nas bil Asykhas)
Beliau berkata (15/28-16):
"Jika seorang guru atau ustadz memerintahkan untuk memboikot seseorang, menjatuhkannya, menjauhkannya, atau hal semacamnya, maka hal itu harus ditinjau kembali:
Jika orang tersebut melakukan dosa secara syariat, maka ia dihukum sesuai kadar dosanya tanpa berlebihan.
Jika ia tidak melakukan dosa secara syariat, maka tidak boleh menghukumnya dengan cara apa pun demi tujuan pribadi sang guru atau selainnya.
Para guru tidak sepatutnya membuat kelompok-kelompok di antara manusia dan melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan permusuhan serta kebencian. Sebaliknya, mereka harus menjadi seperti saudara yang saling tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
'Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.'"
Sekiranya dibolehkan untuk menguji manusia dengan tokoh tertentu di zaman ini untuk mengetahui siapa yang termasuk pengikut Sunnah (Ahlus Sunnah) atau bukan, maka orang yang paling berhak dan utama untuk dijadikan tolok ukur ujian tersebut adalah Syaikhul Islam, Mufti Dunia, dan Imam Ahlus Sunnah di zamannya, yaitu guru kami Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (yang wafat pada 27 Muharram 1420 H). Semoga Allah merahmatinya, mengampuninya, dan memberinya pahala yang melimpah. Beliau dikenal oleh kalangan khusus maupun umum karena keluasan ilmunya, besarnya manfaatnya, kejujurannya, kelembutannya, kasih sayangnya, serta semangatnya dalam memberi petunjuk kepada manusia. Kami menilainya demikian, dan kami tidak menyucikan seorang pun di hadapan Allah.
Beliau memiliki manhaj (metode) yang unik dalam berdakwah kepada Allah, mengajarkan kebaikan kepada manusia, memerintah yang makruf, dan mencegah yang mungkar dengan kelembutan. Manhaj yang lurus ini membangun kekuatan Ahlus Sunnah, bukan memecah belahnya; menyatukan mereka, bukan mencerai-beraikannya; mempermudah, bukan mempersulit. Betapa butuhnya para penuntut ilmu saat ini untuk mengikuti jalan yang lurus dan manhaj yang agung ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan bagi kaum muslimin dan penolak marabahaya dari mereka.
Dan wajib bagi para pengikut maupun tokoh yang diikuti yang telah terjerumus ke dalam ujian (terhadap tokoh) tersebut untuk melepaskan diri dari jalan ini, yang telah memecah belah Ahlus Sunnah dan membuat mereka saling memusuhi. Caranya adalah dengan meninggalkan ujian tersebut dan segala dampak kebencian serta boikot yang ditimbulkannya. Hendaklah mereka menjadi saudara yang saling mencintai dan tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa. Para tokoh yang diikuti harus berlepas diri dari metode ini dan dari perbuatan orang-orang yang melakukannya. Dengan demikian, para pengikut dan tokoh tersebut akan selamat dari beban dosa akibat ujian ini dan dari dampak buruk yang menimpa mereka maupun orang lain.