Minggu, 24 Agustus 2025

Menjadi Penakluk atau Tawanan?

๐Ÿ“ Menjadi Penakluk atau Tawanan?
__________

Dalam hidup ini, setiap manusia tidak pernah lepas dari pergulatan dengan hawa nafsunya. Ada yang mampu mengendalikannya, ada pula yang justru dikuasai olehnya. Pertarungan ini menentukan arah hidup seseorang, apakah ia akan selamat atau binasa.

Ibnul Qayyim rahimahullฤh berkata:

ูุฅู† ุงู„ู†ุงุณ ุนู„ู‰ ู‚ุณู…ูŠู†: ู‚ุณู… ุธูุฑุช ุจู‡ ู†ูุณู‡ ูู…ู„ูƒุชู‡ ูˆุฃู‡ู„ูƒุชู‡، ูˆุตุงุฑ ุทูˆุนุง ู„ู‡ุง ุชุญุช ุฃูˆุงู…ุฑู‡ุง. ูˆู‚ุณู… ุธูุฑูˆุง ุจู†ููˆุณู‡ู… ูู‚ู‡ุฑูˆู‡ุง، ูุตุงุฑุช ุทูˆุนุง ู„ู‡ู… ู…ู†ู‚ุงุฏุฉ ู„ุฃูˆุงู…ุฑู‡ู….

“Sesungguhnya manusia terbagi menjadi dua golongan:

1. Golongan yang ditaklukkan oleh nafsunya, sehingga nafsu itu menguasai dan membinasakannya, lalu ia menjadi patuh kepada nafsu tersebut di bawah perintah-perintahnya.

2. Golongan yang menaklukkan nafsu mereka, lalu mereka menguasainya, sehingga nafsu itu menjadi tunduk kepada mereka dan patuh pada perintah mereka.” (Ighฤtsah al-Lahfฤn, 1/75).

Maka jelaslah, kemuliaan ada pada mereka yang mampu menundukkan hawa nafsu agar tunduk kepada aturan Allah. Sebaliknya, kehinaan menimpa mereka yang diperbudak olehnya hingga terjerumus dalam kebinasaan. Pilihan ada di tangan kita: menjadi pengendali atau menjadi tawanan.

Allah Ta‘ฤlฤ berfirman:

﴿ูˆَุฃَู…َّุง ู…َู†ْ ุฎَุงูَ ู…َู‚َุงู…َ ุฑَุจِّู‡ِ ูˆَู†َู‡َู‰ ุงู„ู†َّูْุณَ ุนَู†ِ ุงู„ْู‡َูˆَู‰ٰ * ูَุฅِู†َّ ุงู„ْุฌَู†َّุฉَ ู‡ِูŠَ ุงู„ْู…َุฃْูˆَู‰ٰ﴾

“Dan adapun orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan dirinya dari (keinginan) hawa nafsu, maka sungguh, surga-lah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nฤzi‘ฤt: 40–41).
Ustadz khairullah tekko