Sabtu, 15 Maret 2025

𝗕𝗮𝗱𝗮𝗹 𝗛𝗮𝗷𝗶/𝗨𝗺𝗿𝗮𝗵 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗗𝗶𝗽𝗲𝗿𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗱𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗛𝘂𝗯𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗿𝗮𝗵

𝗕𝗮𝗱𝗮𝗹 𝗛𝗮𝗷𝗶/𝗨𝗺𝗿𝗮𝗵 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗗𝗶𝗽𝗲𝗿𝘀𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗔𝗱𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗛𝘂𝗯𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗿𝗮𝗵

Badal haji/umrah bukanlah bid’ah sebagaimana diklaim pemilik akun ini yang mencoret sebuah/dua buah postingan pihak lain terkait badal haji/umrah.

Melakukan haji/umrah dengan diniatkan utk pihak lain (mayit) adalah boleh dan pahalanya sampai kepada mayit. Ini pendapat jumhur ulama dan tidak dipersyaratkan adanya hubungan darah. Begitu pula membayar sejumlah uang untuk orang lain agar orang tsb melakukan haji/umrah utk pihak lain yang diniatkan adalah hal yang diperbolehkan.

𝟭. 𝗙𝗮𝘁𝘄𝗮 𝘁𝗶𝗺 𝗶𝘀𝗹𝗮𝗺𝘄𝗲𝗯.𝗻𝗲𝘁

فالراجح عندنا انتفاع الموتى بما يوهب لهم من الحج أو العمرة، وأنه يبلغهم ثوابه، ولا يلزم أن تكون هناك صلة بين الميت ومن يحج عنه

“Yang rajih dalam pandangan kami adalah mayit mendapatkan manfaat dengan hadiah yang ditujukan ke mereka berupa haji dan umrah. Pahala tersebut akan sampai pada mayit. Tidak diharuskan ada hubungan kekerabatan antara mayit dengan pihak yang menghajikan.”

𝟮. 𝗙𝗮𝘁𝘄𝗮 𝘂𝗹𝗮𝗺𝗮 𝗯𝗲𝘀𝗮𝗿 𝗦𝘆𝗮𝗶𝗸𝗵 𝗜𝗯𝗻𝘂 𝗕𝗮𝘇 𝗿𝗮𝗵𝗶𝗺𝗮𝗵𝘂𝗹𝗹𝗮𝗵 

Syaikh bin Baz ditanya oleh seorang anak yang ingin melakukan hal tsb utk orang tuanya:

توفيت والدتي وأنا صغير السن ، وقد أجَّرت على حجتها شخصاً موثوقاً به ، وأيضاً والدي توفي ، وقد سمعت من بعض أقاربي أنه حج .
هل يجوز أن أؤجر على حجة والدتي أم يلزمني أن أحج عنها أنا بنفسي ، وأيضاً والدي هل أقوم بحجة له وأنا سمعت أنه قد حج ؟

“Ibuku wafat. Aku sendiri masih berumur kecil. Untuk haji ibuku, aku telah menyewa/membayar seseorang terpercaya. Ayahku pula sudah wafat. Aku mendengar dari sebagian keluarga bhw ayah telah berhaji. Bolehkah aku membayar seseorang utk menghajikan ibuku? Atau mestikah aku sendiri yang melakukan haji untuk ibu? Terkait ayah, apakah aku mesti berhaji untuk ayah sementara aku mendengar bahwa beliau sudah berhaji?”

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menjawab:

"إن حججت عنهما بنفسك واجتهدت في إكمال حجك على الوجه الشرعي : فهو الأفضل ، وإن استأجرت من يحج عنهما من أهل الدين والأمانة : فلا بأس .
والأفضل أن تؤدي عنهما حجّاً وعمرة ، وهكذا من تستنيبه في ذلك يشرع لك أن تأمره أن يحج عنهما ويعتمر ، وهذا من برِّك لهما وإحسانك إليهما ، تقبل الله منا ومنك" انتهى .
" فتاوى الشيخ ابن باز " ( 16 / 408 )

“Jika engkau sendiri yang melakukan haji untuk keduanya dan berupaya menyempurnakan haji tsb sesuai syariat, itulah yang terbaik. Sekiranya engkau menyewa orang lain yang ahli agama dan terpercaya guna melakukan haji untuk ayah ibumu, ini tidaklah mengapa.

Yang terbaik adalah engkau melakukan haji dan umrah utk keduanya. Demikian pula jika engkau meminta pihak lain sebagai wakil dalam hal ini, disyariatkan padamu agar memerintahkannya melakukan haji dan umrah untuk kedua orang tuamu. Ini adalah bentuk engkau berbuat baik pada keduanya. Semoga Allah menerima amal kami dan engkau.” (Fatawa Syaikh Ibnu Baz, 16/408)

𝟯. 𝗙𝗮𝘁𝘄𝗮 𝗥𝗮𝗸𝘀𝗮𝘀𝗮 𝗜𝗹𝗺𝘂 𝗮𝗹-𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗮𝗻-𝗡𝗮𝘄𝗮𝘄𝗶 rahimahullah 

Beliau menyebutkan dalam al-Majmu’:

ويجوز عن الميت بإذنه، وبغير إذنه، ويجوز من الوارث، والأجنبي، سواء أذن له الوارث أم لا، بلا خلاف. 

“Boleh melakukan haji/umrah untuk mayit baik dengan atau tanpa idzinnya. Boleh dilakukan oleh ahli waris atau pihak ajnabiy (non ahli waris/non hubungan darah) baik diizinkan ahli waris atau tidak. Ini tanpa khilaf.”

Catatan kami:

Jangan mengambil ilmu dari akun majhul yang anda tidak tahu siapa di balik itu, begitu pula rekam jejak belajarnya. Kita tidak tahu apakah ia paham bahasa Arab atau tidak, sudah menuntaskan belajar fiqh, ushul fiqh, ushul hadits, tauhid, akidah, dll atau tidak. Belajar dan berguru langsung kepada siapa, tidak diketahui. Sayangnya banyak ikhwah ngaji ngambil ilmu dari yang bersangkutan hanya bermodalkan copas artikel berbahasa Indonesia. Para doktor alumni Madinah yang belajar bertahun-tahun mulazamah dan kuliah di kota Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersama ulama besar sudah disikatnya habis-habisan. Seawam-awamnya orang awam mana ada yang berani merendahkan ahli ilmu.

Selama belum mempelajari bahasa Arab, ushul fiqh, ushul hadits secara tuntas dan menekuni sejumlah cabang ilmu syar’i secara runtun dan berjenjang -misal akidah dari kitab dasar hingga lanjutan, misal fiqh dari kitab dasar hingga lanjutan, misal tafsir dari dasar hingga lanjutan, dll- walaupun sering memposting masalah ilmu dan share kebaikan, seseorang tetaplah dikatakan awam walaupun level keawamannya tidak sama dengan orang awam lain yang tidak mengenal majelis ilmu. Orang awam tidak diperkenankan bicara tentang tema besar atau menilai sosok ahli ilmu karena dia tidak memiliki timbangan dan neraca. Penilaiannya terhadap para ahli ilmu termasuk kurang ajar dan tidak sopan dan akan lebih sering membuat gaduh.

____
Madinah, kota Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Ustadz yani fahriansyah